Saturday, April 16, 2011

tajuk pesat(usrah) kitorang baru2 ni kisah Usamah bin Zaid

Kita sekarang kembali ke Mekah tahun ketujuh sebelum hijrah. Ketika itu Rasulullah saw. sedang susah krn tindakan kaum Qurasy yg menyakiti beliau dan para sahabat. Kesulitan dan kesusahan berdakwah menyebabkan beliau senantiasa harus bersabar. Dalam suasana seperti itu tiba-tiba seberkas cahaya memancar memberikan hiburan yg menggembirakan. Seorang pembawa berita mengabarkan kepada beliau “Ummu Aiman melahirkan seorang bayi laki-laki.” Wajah Rasulullah berseri-seri krn gembira menyambut berita tersebut. Siapakah bayi itu? Sehingga kelahirannya dapat mengobati hati Rasulullah yg sedang duka berubah menjadi gembira ? Itulah dia Usamah bin Zaid. Para sahabat tidak merasa aneh bila Rasulullah bersuka-cita dgn kelahiran bayi yg baru itu. Karena mereka mengetahui kedudukan kedua orang tuanya di sisi Rasulullah. Ibu bayi tersebut seorang wanita Habsyi yg diberkati terkenal dgn panggilan “Ummu Aiman”. Sesungguhnya Ummu Aiman adl bekas sahaya ibunda Rasulullah Aminah binti Wahab. Dialah yg mengasuh Rasulullah waktu kecil selagi ibundanya masih hidup. Dia pulalah yg merawat sesudah ibunda wafat. Karena itu dalam kehidupan Rasulullah beliau hampir tidak mengenal ibunda yg mulia selain Ummu Aiman. Rasulullah menyayangi Ummu Aiman sebagaimana layaknya sayangnya seroang anak kepada ibunya. Beliau sering berucap “Ummu Aiman adl ibuku satu-satunya sesudah ibunda yg mulia wafat dan satu-satunya keluargaku yg masih ada.” Itulah ibu bayi yg beruntung ini. Adapun bapaknya adl kesayangan Rasulullah Zaid bin Haritsah. Rasulullah pernah mengangkat Zaid sebagai anak angkatnya sebelum ia memeluk Islam. Dia menjadi sahabat beliau dan tempat mempercayakan segala rahasia. Dia menjadi salah seorang anggota keluarga dalam rumah tangga beliau dan orang yg sangat dikasihi dalam Islam. Kaum muslimin turut bergembira dgn kelahiran Usamah bin Zaid melebihi kegembiraan meraka atas kelahiran bayi-bayi lainnya. Hal itu bisa terjadi krn tiap-tiap sesuatu yg disukai Rasulullah juga mereka sukai. Bila beliau bergembira mereka pun turut bergembira. Bayi yg sangat beruntung itu mereka panggil “Al-Hibb wa Ibnil Hibb” . Kaum muslimin tidak berlebih-lebihan memanggil Usamah yg masih bayi itu dengap panggilan tersebut. Karena Rasulullah memang sangat menyayangi Usamah sehingga dunia seluruhnya agaknya iri hati. Usamah sebaya dgn cucu Rasulullah Hasan bin Fatimah az-Zahra. Hasan berkulit putih tampan bagaikan bunga yg mengagumkan. Dia sangat mirip dgn kakeknya Rasulullah saw.

Usamah kulitnya hitam hidungnya pesek sangat mirip dgn ibunya wanita Habsyi. Namun kasih sayang Rasulullah kepada keduanya tiada berbeda. Beliau sering mengambil Usamah lalu meletakkan di salah satu pahanya. Kemudian diambilnya pula Hasan dan diletakkannya di paha yg satunya lagi. Kemudian kedua anak itu dirangkul bersama-sama ke dadanya seraya berkata “Wahai Allah saya menyayangi kedua anak ini maka sayangi pulalah mereka!” Begitu sayangnya Rasulullah kepada Usamah pada suatu kali Usamah tersandung pintu sehingga keningnya luka dan berdarah. Rasulullah menyuruh Aisyah membersihkan darah dari luka Usamah tetapi tidak mampu melakukannya. Karena itu beliau berdiri mendapatkan Usamah lalu beliau isap darah yg keluar dari lukanya dan ludahkan. Sesudah itu beliau bujuk Usamah dgn kata-kata manis yg menyenangkan hingga hatinya merasa tenteram kembali. Sebagaimana Rasulullah menyayangi Usamah waktu kecil tatkala sudah besar beliau juga tetap menyayanginya. Hakim bin Hazam seorang pemimpin Qurasy pernah menghadiahkan pakaian mahal kepada Rasulullah. Hakam membeli pakaian itu di Yaman dgn harga lima puluh dinar emas dari Yazan seorang pembesar Yaman. Rasulullah enggan menerima hadiah dari Hakam sebab ketika itu dia masih musyrik. Lalu pakaian itu dibeli oleh beliau dan hanya dipakainya sekali ketika hari Jumat. Pakaian itu kemudian diberikan kepada Usamah. Usamah senantiasa memakainya pagi dan petang di tengah-tengah para pemuda Muhajirin dan Anshar sebayanya. Sejak Usamah meningkat remaja sifat-sifat dan pekerti yg mulia sudah kelihatan pada dirinya yg memang pantas menjadikannya sebagai kesayangan Rasulullah. Dia cerdik dan pintar bijaksana dan pandai takwa dan wara. Ia senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela. Waktu terjadi Perang Uhud Usamah bin Zaid datang ke hadapan Rasulullah saw. beserta serombongan anak-anak sebayanya putra-putra para sahabat.

Mereka ingin turut jihad fi sabilillah. Sebagian mereka diterima Rasulullah dan sebagian lagi ditolak krn usianya masih sangat muda. Usamah bin Zaid teramasuk kelompok anak-anak yg tidak diterima. Karena itu Usama pulang sambil menangis. Dia sangat sedih krn tidak diperkenankan turut berperang di bawah bendera Rasulullah. Dalam Perang Khandaq Usamah bin Zaid datang pula bersama kawan-kawan remaja putra para sahabat. Usamah berdiri tegap di hadapan Rasulullah supaya kelihatan lbh tinggi agar beliau memperkenankannya turut berperang. Rasulullah kasihan melihat Usamah yg keras hati ingin turut berperang. Karena itu beliau mengizinkannya Usamah pergi berperang menyandang pedang jihad fi sabilillah. Ketika itu dia baru berusia lima belas tahun. Ketika terjadi Perang Hunain tentara muslimin terdesak sehingga barisannya menjadi kacau balau. Tetapi Usamah bin Zaid tetap bertahan bersama-sama denga ‘Abbas Sufyan bin Harits dan enam orang lainnya dari para sahabat yg mulia. Dengah kelompok kecil ini Rasulullah berhasil mengembalikan kekalahan para sahabatnya menjadi kemenangan. Beliau berhasil menyelematkan kaum muslimin yg lari dari kejaran kaum musyrikin. Dalam Perang Mu’tah Usamah turut berperang di bawah komando ayahnya Zaid bin Haritsah. Ketika itu umurnya kira-kira delapan belas tahun. Usamah menyaksikan dgn mata kepala sendiri tatkala ayahnya tewas di medan tempur sebagai syuhada. Tetapi Usamah tidak takut dan tidak pula mundur. Bahkan dia terus bertempur dgn gigih di bawah komando Ja’far bin Abi Thalib hingga Ja’far syahid di hadapan matanya pula. Usamah menyerbu di bawah komando Abdullah bin Rawahah hingga pahlawan ini gugur pula menyusul kedua sahabatnya yg telah syahid. Kemudian komando dipegang oleh Khalid bin Walid.

Usamah bertempur di bawah komando Khalid. Dengan jumlah tentara yg tinggal sedikit kaum muslimin akhirnya melepaskan diri dari cengkeraman tentara Rum. Seusai peperangan Usamah kembali ke Madinah dgn menyerahkan kematian ayahnya kepada Allah SWT. Jasad ayahnya ditinggalkan di bumi Syam dgn mengenang segala kebaikan almarhum. Pada tahun kesebelas hijriah Rasulullah menurunkan perintah agar menyiapkan bala tentara utk memerangi pasukan Rum. Dalam pasukan itu terdapat antara lain Abu Bakar Shidiq Umar bin Khattab Sa’ad bin ABi Waqqas Abu Ubaidah bin Jarrah dan lain-lain sahabat yg tua-tua. Rasulullah mengangkat Usamah bin Zaid yg muda remaja menjadi panglima seluruh pasukan yg akan diberangkatkan. Ketika itu usia Usamah belum melebihi dua puluh tahun. Beliau memerintahkan Usamah supaya berhenti di Balqa’ dan Qal’atut Daarum dekat Gazzah termasuk wilayah kekuasaan Rum. Ketika bala tentara sedang bersiap-siap menunggu perintah berangkat Rasulullah saw. sakit dan kian hari sakitnya makin keras. Karena itu keberangkatan pasukan ditangguhkan menunggu keadaan Rasulullah membaik. Kata Usamah “Tatkala sakit Rasulullah bertambah berat saya datang menghadap beliau diikuti orang banyak setelah saya masuk saya dapati beliau sedang diam tidak berkata-kata krn kerasnya sakit beliau. Tiba-tiba beliau mengangkat tangan dan meletakkannya ke tubuh saya. Saya tahu beliau memanggilku.” Tidak berapa lama kemudian Rasulullah pulang ke rahmatullah. Abu Bakar Shidiq terpilih dan dilantik menjadi khalifah. Khalifah Abu Bakar meneruskan pengiriman tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid sesuai dgn rencana yg telah digariskan Rasulullah. Tetapi sekelompok kaum Anshar menghendaki supaya menangguhkan pemberangkatan pasukan. Mereka meminta Umar bin Khattab membicarakannya dgn Khalifah Abu Bakar. Kata mereka “Jika khalifah tetap berkeras hendak meneruskan pengiriman pasukan sebagaimana dikehendakinya kami mengusulkan panglima pasukan yg masih muda remaja ditukar dgn tokoh yg lbh tua dan berpengalaman.” Mendengar ucapan Umar yg menyampaikan usul dari kaum Anshar itu Abu Bakar bangun menghampiri Umar seraya berkata dgn marah “Hai putra Khattab! Rasulullah telah mengangkat Usamah. Engkau tahu itu. Kini engkau menyuruhku membatalkan putusan Rasululllah. Demi Allah tidak ada cara begitu!” Tatkal Umar kembali kepada orang banyak mereka menanyakan bagaimana hasil pembicaraannya dgn khalifah tentang usulnya. Kata Umar “Setelah saya sampaikan usul kalian kepada Khalifah belaiu menolak dan malahan saya kena marah. Saya dikatakan sok berani membatalkan keputusan Rasulullah. Maka pasukan tentara muslimin berangkat di bawah pimpinan panglima yg masih muda remaja Usamah bin Zaid.

Khalifah Abu Bakar turut mengantarkannya berjalan kaki sedangkan Usamah menunggang kendaraan. Kata Usamah “Wahai Khalifah Rasulullah! Silakan Anda naik kendaraan. Biarlah saya turun dan berjalan kaki. ” Jawab Abu Bakar “Demi Allah! jangan turun! Demi Allah! saya tidak hendak naik kendaraan! Biarlah kaki saya kotor sementara mengantar engkau berjuang fisabilillah! Saya titipkan engkau agama engkau kesetiaan engkau dan kesudahan perjuangan engkau kepada Allah. Saya berwasiat kepada engkau laksanakan sebaik-baiknya segala perintah Rasulullah kepadamu!” Kemudian Khalifah Abu Bakar lbh mendekat kepada Usamah. Katanya “JIka engkau setuju biarlah Umar tinggal bersama saya. Izinkanlah dia tinggal utk membantu saya. Usamah kemudian mengizinkannya. Usamah terus maju membawa pasukan tentara yg dipimpinnya. Segala perintah Rasulullah kepadanya dilaksanakan sebaik-baiknya. Tiba di Balqa’ dan Qal’atud Daarum termasuk daerah Palestina Usamah berhenti dan memerintahkan tentaranya berkemah. Kehebatan Rum dapat dihapuskannya dari hati kaum muslimin. Lalu dibentangkannya jalan raya di hadapan mereka bagi penaklukan Syam dan Mesir. Usamah berhasil kembali dari medan perang dgn kemenangan gemilang. Mereka membawa harta rampasan yg banyak melebihi perkiraan yg diduga orang. Sehingga orang mengatakan “Belum pernah terjadi suatu pasukan bertempur kembali dari medan tempur dgn selamat dan utuh dan berhasil membawa harta rampasan sebanyak yg dibawa pasukan Usamah bin Zaid.” Usamah bin Zaid sepanjang hidupnya berada di tempat terhormat dan dicintai kaum muslimin. Karena dia senantiasa mengikuti sunah Rasulullah dgn sempurna dan memuliakan pribadi Rasul. Khalifah Umar bin Khattab pernah diprotes oleh putranya Abdullah bin Umar krn melebihkan jatah Usamah dari jatah Abdullah sebagai putra Khalifah. Kata Abdullah bin Umar “Wahai Bapak! Bapak menjatahkan utk Usamah empat ribu sedangkan kepada saya hanya tiga ribu. Padahal jasa bapaknya agaknya tidak akan lbh banyak daripada jasa Bapak sendiri. Begitu pula pribadi Usamah agaknya tidak ada keistimewaannya daripada saya. Jawab Khalifah Umar “Wah?! jauh sekali?! Bapaknya lbh disayangi Rasulullah daripada bapak kamu. Dan pribadi Usamah lbh disayangi Rasulullah daripada dirimu.” Mendengar keterangan ayahnya Abdullah bin Umar rela jatah Usamah lbh banyak daripada jatah yg diterimanya. Apabila bertemu dgn Usamah Umar menyapa dgn ucapan “Marhaban bi amiri!” . Jika ada orang yg heran dgn sapaan tersebut Umar menjelaskan “Rasulullah pernah mengangkat Usamah menjadi komandan saya.” Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada para sahabat yg memiliki jiwa dan kepribadian agung seperti mereka ini. Wallahu a’lam. SumberShuwar min Hayaatis Shahabah Dr. Abdur Rahman Ra’fat Basya Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Friday, April 15, 2011

Sejarah Empayar Khazar (Yajuj Majuj)

PENDAHULUAN

Sejauh manakah pengetahuan anda mengenai sejarah Empayar Khazaria? Khazaria adalah sebuah kerajaan milik Yajuj Majuj sebelum mereka dikurung di sebalik tembok Zulkarnain. Sehingga tiba masanya, tembok tersebut telah runtuh dan mereka (Khazars) telah bertebaran ke seluruh pelusuk dunia, terutamanya Eropah. Analisis lanjut mengenai persoalan a) Adakah Yajuj Majuj itu manusia? b) Dimanakah kedudukan mereka? dan c) Dimanakah tembok yang menyekat Yajuj Majuj? boleh didapati di sini.
ANALISIS : SAMADA TEMBOK YAJUJ MAJUJ TELAH TERBUKA
Tembok menyekat kaum Ya’juj & Ma’juj telah lama terbuka apabila orang Yahudi kembali ke Bait al-Maqdis (Jerusalem) dan membentuk negara Israel pada tahun 1948. Allah SWT telah memberi keterangan di bawah bagi menjelaskan kepulangan Yahudi ke Bait al-Maqdis:
“…Dan mustahil kepada penduduk sesebuah negeri yang Kami binasakan, bahawa mereka tidak akan kembali hingga apabila terbuka tembok yang menyekat Ya’juj & Ma’juj, serta mereka meluru turun dari tiap-tiap tempat yang tinggi...”; al-Anbiyaa’: 95-96
“Penduduk” dimaksudkan ialah orang Yahudi, “negeri” adalah Bait al-Maqdis, “Yajuj & Majuj”adalah Yahudi (Khazar), dan “meluru turun dari tiap-tiap tempat yang tinggi” bermaksud Ya’juj & Ma’juj menguasai dan menjajah keseluruhan aspek kuasa-kuasa pemerintahan dunia.
Allah SWT malahan menyatakan “mustahil” bagi orang Yahudi untuk pulang ke Bait al-Maqdis, kecuali setelah tembok menyekat Yajuj & Majuj terbuka dan mereka telah berkuasa. Orang Yahudi telah lama pulang ke negeri Bait al-Maqdis dan membentuk negara Israel pada tahun 1948. Oleh itu apakah penjelasan kepulangan mereka ke Bait al-Maqdis?
Ini bermaksud tembok telah terbuka dan Yajuj & Majuj telah lama menguasai pemerintahan. Orang Yahudi dikembalikan melalui agenda puak Khazar, iaitu Yahudi Zionis yang menguasai dunia hari ini dan digambarkan di dalam Surah al-Kahfi sebagai kaum Yajuj & Majuj. Mereka malahan boleh dianggap menguasai dunia hari ini kerana tiada negara yang mampu menghalang mereka daripada menghancurkan Palestin.
Fakta kedua menyokong dakwaan tembok Ya’juj & Ma’juj telah lama terbuka ialah berdasarkan keterangan Allah swt di bawah:
“…Maka mereka… tidak dapat menebuknya…” ; al-Kahfi: 97
Ayat menyatakan mereka tidak dapat “menebuk” tembok tersebut. Beribu-ribu tahun Allah swt memelihara tembok tersebut, dan tiada satu makhluk pun di seluruh alam ini mampu “menebuk” tembok kecuali dengan keizinan Allah swt, iaitu apabila Allah swt mengizinkan Ya’juj dan Ma’juj dilepaskan.
Sebaliknya telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi SAW bersabda:
“Telah mulai terbuka hari ini dari dinding Ya`juj dan Ma`juj sebesar (lubang) ini.” Rasulullah membuat lingkaran dengan dua jarinya, ibu jari dan jari telunjuk. (HR. Al-Bukhari dari Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha).
Apakah maksud hadis apabila dibaca bersama ayat 97 surah al-Kahfi yang menyatakan Ya’juj & Ma’juj “tidak dapat menebuknya”? Ini membuktikan Allah SWT telah melepaskan mereka kerana fakta tembok berlubang membuktikan mereka telah berjaya menebuk tembok. Tembok tidak akan berlubang jika tidak boleh ditebuk!
Oleh itu fakta tembok berlubang membuktikan Yajuj Majuj dilepaskan semasa zaman kehidupan Rasulullah SAW di Madinah, iaitu selepas Allah SWT menukarkan kiblah ke arah Kabbah pada Rejab 2 AH (624 AD). Meraka yang masih berpegang Yajuj dan Majuj dilepaskan selepas Dajjal, akan terus menerus menunggu sehinggalah bumi ini hancur dan kiamat, dan Yajuj dan Majuj tetap tidak kunjung tiba. Sepatutnya mereka memikirkan kembali kepercayaan mereka yang bercanggah dengan Al-Quran dan bertanya diri sendiri jawapan bagi persoalan di bawah :
(a) penjelasan kepulangan orang Yahudi ke Bait al-Maqdis dan membentuk negara Israel pada tahun 1948 (al-Anbiyaa’:95-96), dan
(b) Rasulullah saw menyatakan tembok telah berlubang, iaitu telah berjaya ditebuk (al-Kahfi:97).
(c) Kenapa terdapat ketepatan fakta yang sempurna menghubungkan Al-Quran dengan sejarah Yahudi Khazar? Sedarilah tipu daya itu teorinya tidak tetap dan sentiasa berubah-ubah, manakala kebenaran itu sebenarnya lebih terang dan tetap tidak berubah-ubah.
SEJARAH KHAZARIA
Kerajaan Khazars lenyap dari peta dunia beberapa abad yang lalu. Dewasa ini banyak orang yang tidak pernah mendengar mengenai kewujudannya, namun pada waktu itu Kerajaan Khazars (Khazaria) merupakan satu kuasa yang sangat penting, tentu saja melakukan perluasan kerajaannya dengan penaklukan. Kekuatan Khazaria waktu itu dinilaikan oleh kedua negara tertangganya. Di sebelah Selatan dan Barat, berdirinya Empayar Byzantium yang maju dengan peradaban Timur Kristian Ortodoks. Di sebelah Tenggara, kerajaan Khazar bersempadan dengan Empayar Islam Kekhalifahan Arab yang sedang mengembangkan kekuasaannya. Sejarah bangsa Khazar dipengaruhi oleh kedua-dua buah empayar ini, namun fakta yang lebih penting ialah kerajaan Khazar mendiami wilayah yang kemudian menjadi bahagian selatan wilayah Rusia yang terletak antara Laut Hitam dan Laut Kaspia.
Pada tahun 1976, sebuah buku mengenai bangsa Khazars diterbitkan oleh seorang penulis Inggeris (seorang Yahudi Khazars) bernama Arthur Koestler. Bukunya berjudul, The Thirteenth Tribe - The Khazar Empire And Its Heritage (Suku Bangsa Ketiga Belas – Kekaisaran Bangsa Khazar dan Warisannya).
Sejarah mencatat bahawa bangsa Khazars terdiri dari campuran bangsa Mongol, Turki dan Finland. Dalam awal abad ke-3 M, mereka dapat dikenal dengan kesejahteraannya yang ajeg di wilayah Persia dan Armenia. Kemudian pada abad ke-5, bangsa Khazars berada diantara gerombolan perosak Attila, bangsa Hun. Sekitar tahun 550 M, bangsa Khazars yang nomadik, mereka mulai menetap di wilayah sebelah Utara Caucasus antara Laut Hitam dan Laut Kaspia. Ibukota kerajaan Khazars adalah Itil dibangun dihulu Sungai Volga yang mengalir ke Laut Kaspia, dalam rangka mengkontrol lalu lintas sungai. Bangsa Khazars kemudian memungut pajak 10% setiap muatan yang melintasi Itil di sungai Volga. Mereka yang menolak diserang dan di bantai.
Akhirnya kerajaan Khazars dibangun di Caucasus, bangsa Khazars secara perlahan mula mencipta sebuah jajahan rakyat yang ditaklukinya. Khazars terus melakukan perluasan wilayahnya termasuk menakluk suku Slavonic, yang cintakan damai berbanding bangsa Khazars. Wilayah Slavonic dijadikan sebahagian dari jajahan bangsa Khazar, dan rakyatnya diminta untuk menghormati/tunduk kepada Kerajaan Khazar. Tentu saja penghormatan yang dilakukan oleh rakyat yang dikalahkan selalu merupakan keistimewaan, tetapi bukan gayanya Khazars. Apa yang disebutnya sebagai Jajahan Agung dunia selalu memberikan sesuatu sebagai imbalannya atas pajak yang diberikannya. Empayar Rom, misalnya, rakyat yang telah ditakluki dijadikan warganegaranya dan sebagai balasannya, mereka (penguasa Rom) membawa peradaban, tata tertib dan perlindungan dari serangan musuh.
Namun tidak terjadi di wilayah jajahan bangsa Khazar. Rakyat yang menjadi 'subjek' bagi Khazars hanya menerima satu hal sebagai balasan atas pembayaran upetinya, dan itu adalah janji yang tidak jelas - bangsa Khazars akan menahan serangan dan penjarahan selama mereka membayarkan upeti. Namun penduduk di Jajahan Khazar tidak lebih daripada korban the giant protection racket. Maharaja Khazar oleh sebab itu tidak disukai baik di dalam negeri maupun di luar negeri, tetapi mereka juga ditakuti karena kekejamannya terhadap siapa saja yang menentangnya. Dan kemudian Kekaisaran Khazar diperluas ke arah utara sampai ke Kiev (Kiev kini sebuah ibukota Ukraine), di Sungai Dnieper. Kiev merupakan kota terbesar di Ukraine dan juga sebagai kota pelabuhan utama. Salah satu kota tertua Eropah, dan sebagai pusat perdagangan pada awal abad ke-5 dan menjadi ibukota KIEVAN RUSSIA pada abad ke-9 dan di Barat termasuk Magyars, nenek moyang orang Hongaria moden.
Sekitar tahun 740M, terjadi sebuah peristiwa. Bangsa Khazars di bawah tekanan terus menerus kedua-dua empayar berjiran dengannya, Byzantium dan Muslim, apakah menerima agama Kristian atau Islam, akan tetapi penguasa bangsa Khazar, yang disebut Khakan, mendengar ada agama ketiga iaitu JUDAISME atau YAHUDI. Atas alasan-alasan kelangsungan politik, Khakan mengumumkan bahwa bangsa Khazars menerima Judaisme sebagai agama mereka. Dalam waktu satu malam seluruh kelompok baru, bangsa Khazars yang suka berperang, tiba-tiba mendakwa diri mereka sebagai YAHUDI dan menerima YAHUDI. Kerajaan Khazar mulai dideskripsikan sebagai ‘Kerajaan Yahudi' oleh sejarawan pada waktu itu. Perwaris penguasa Khazar telah mengambil nama Yahudi, dan selama akhir abad ke-9, kerajaan Khazar menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang Yahudi dari tempat lain.
Sementara itu kekejaman penguasa Khazar terhadap penduduk yang ditaklukinya tetap tidak berubah. Namun kemudian selama abad ke-8 muncul ke kancah pemain baru, berasal dari sungai besar Dnieper , Don dan Volga – bangsa Vikings dari sebelah timur. Mereka dikenali sebagai bangsa VARANCIANS, atau bangsa RUS. Seperti bangsa Vikings lainnya, bangsa Rus penjelajah tulen dan merupakan pejuang yang gagah, namun ketika berhadapan dengan bangsa Khazars, bangsa Rus seringkali tewas dan membayar upeti seperti yang lainnya.
Pada tahun 862, seorang pemimpin bangsa Rus bernama Rurik membangunkan kota Novgorod, dan bermula dari sinilah kemudiannya lahirnya bangsa Rusia. Bangsa Rus Vikings berdiam diantara suku bangsa Slavonic di bawah kekuasaan Khazar, dan perjuangan antara bangsa Vikings dan Khazars berubah dalam karakternya, dan menjadi perjuangan oleh bangsa Rusia yang sedang tumbuh untuk merdeka dari tekanan Khazar.
Lebih dari seabad kemudian setelah didirikannya kota pertama di Rusia, terjadi peristiwa penting lainnya. Pemimpin Rusia, Prince Vladimir of Kiev, memeluk agama Kristian pada tahun 989. Dia aktif menyebarkan agama Kristian di Rusia, dan sebagai 'peringatan' oleh warga Rusia kini, ia disebutnya 'Saint Vladimir' dan dengan demikian tradisi Rusia sebagai sebuah bangsa Kristian dimulai sejak seribu tahunan lalu. Sebagai hasilnya, sejarah menentukan bangsa Rusia dan bangsa Khazars menjalin hubungan yang masih terjadi sampai dengan hari ini.
Pertukaran agama Vladimir juga menghubungkan Rusia dengan Empayar Byzantium. Penguasa Byzantium sering gentar pada bangsa Khazars sementara bangsa Rusia masih berjuang untuk membebaskan dirinya dari tekanan bangsa Khazars. Pada tahun 1016, gabungan bangsa Rusia dan Byzantium telah menyerang kerajaan Khazar sehingga empayar misteri ini hancur-lebur dan hampir lenyap di mamah api peperangan. Akhirnya kebanyakan Yahudi Khazar berimigrasi ke wilayah lain. Kebanyakan dari mereka berhenti dan menetap di Eropah Timur, dimana mereka berhubungan dan berkahwin dengan Yahudi yang lainnya. Seperti Yahudi Semit 1000 tahun yang lalu, Yahudi Khazar kemudian tersebar ke pelbagai wilayah. Kerajaan Khazars sudah tidak ada lagi.
Setelah bangsa Khazars berpindah dan hidup bersama bangsa Yahudi, Yahudi Khazar meninggalkan warisan yang berbeza dari Yahudi yang lainnya, dari generasi ke generasi. Satu unsur warisan Yahudi Khazar adalah sebuah bentuk militan dari ZIONISME. Dalam pandangan Yahudi Khazar, wilayah yang didiami oleh Israel kuno harus diambil kembali bukan dengan sebuah keajaiban akan tetapi dengan cara kekuatan senjata. Inilah yang dimaksudkan dengan Zionisme dewasa ini, dan kekuatan ini yang menciptakan bangsa yang menyebut dirinya sebagai Israel dewasa ini. Ramuan penting warisan Yahudi Khazar adalah kebencian terhadap agama Kristian, dan bangsa Rusia unggul dalam kepercayaan Kristian. Agama Kristian dipandang sebagai kekuatan yang meruntuhkan Kerajaan Yahudi pada masa lalu yang disebut Kerajaan [Khazaria].

Dewasa ini mereka banyak yang berkuasa di Rusia, Yahudi Khazar masih ingin mendirikan kembali kekuasaannya dan sudah satu dekad mereka berupaya secara terus-menerus untuk melakukan hal tersebut.
Pada tahun 1917, Yahudi Khazar melewati satu 'batu loncatan' ke arah penubuhan negara mereka di Palestin.
Pada tahun yang sama mereka juga telah mencipta Revolusi Bolshevik di Rusia, melalui ideologi Komunisme, diikuti dengan peristiwa Holocaust (kononnya satu pembunuhan beramai-ramai terhadap orang Yahudi tetapi hakikatnya, pembunuhan Yahudi anti-Zionisme), kejadian seperti itu tidak pernah diketahui oleh dunia. Yahudi Khazar sekali lagi mengawal Rusia setelah lebih dari 900 tahun, dan kemudian mereka merancang untuk menghancurkan orang-orang Kristian Rusia. Dengan itu, lebih daripada 100 juta orang Kristian dibunuh, pada waktu yang sama lebih dari 20 juta orang yang beragama Yahudi (anti-Zionis) juga mati ditangan Yahudi Khazar.
Ini adalah apa yang ditentang oleh orang-orang Kristian Rusia dalam perjuangannya selama 60 tahun untuk menggulingkan rejim atheis Bolshewik, namun pada akhirnya mereka berjaya merobohkan aktivitinya dan kini setelah 1000 tahun, peperangan antara Kristian Rusia dengan Yahudi Khazar, makin menghampiri klimaksnya.
Pada 19 Ogos 1979, Rabbi Joel Teitelbaum didapati meninggal dunia di New York. Joel meninggal pada pagi hari dan dikuburkan tengah hari hari pada hari yang sama. Meskipun pengumuman yang dibuat sangat mendadak, namun 100000 orang pemuda Yahudi telah datang pada ketika pengubumian. Sulit untuk dibayangkan, kerana pemberitahuan yang mendadak itu lebih dari seratus ribuan orang lagi yang tidak dapat datang. Satu bulan kemudian, pada tanggal 18 September, pengikutnya menaburkan bunga di tugu peringatan, dan dengan jalan memasang iklan dalam surat kabar "New York Times," yang jelas persanan yang ditujukan kepada orang Yahudi. Iklan itu memuat pernyataan yang diantaranya dikutip, mengatakan :
"Dia adalah seorang pemimpin semua orang Yahudi dimana saja yang tidak perlu dipersoalkan lagi, yang tidak terjangkiti fahaman Zionis"
"Dengan keberaniannya yang sangat jarang pada masa kini, dia menyebut negara Zionis 'sebuah karya Syaitan', sebuah penyekutuan (menyekutu) dan penghinaan kepada Tuhan.' Menurutnya, menumpahkan darah untuk kepentingan negara Zionis adalah menjijikan."
Kata-kata ini diucapkan oleh Yahudi Orthodox ketika belasungkawa kematian pemimpin mereka. Dan penguasa baru Kristian Rusia akan setuju, bagi mereka juga negara Zionis Israel dianggap sebagai palsu, jahat dan berbahaya serta memperbodohkan baik pihak Kristian mahupun Yahudi. Negara Khazar yang disebut kononnya sebagai sebuah "Kerajaan Yahudi" (Khazaria) beribu tahun yang lalu adalah parasit, hidup dari hasil upeti dari rakyat yang ditaklukinya. Demikian juga dewasa ini, kelangsungan hidup Israel tergantung atas aliran bantuan yang tidak pernah berhenti dari luar. Bangsa Rusia percaya bahawa Yahudi Khazar akan menghancurkan agama Kristian dengan bantuan fahaman Zionis, justeru penguasa Kristian Rusia sedang melakukan 'perlawanan' terhadap musuh tradisinya sejak ribuan tahun lalu yakni bangsa Khazars.

Friday, April 8, 2011

SEJARAH PERANG SALIB

Awal mula Perang Salib adalah Perang antar Gereja dan Yahudi, jadi bukan bermula Perang antara Kristen dan Islam, yang penengertian umum saat ini.
Berkut adalah Riwayatnya:

Perang Salib Pertama dilancarkan pada 1095 oleh Paus Urban II untuk mengambil kuasa kota suci Yerusalem dan tanah suci Kristen dari Muslim. Apa yang dimulai sebagai panggilan kecil untuk meminta bantuan dengan cepat berubah menjadi migrasi dan penaklukan keseluruhan wilayah di luar Eropa
Baik ksatria dan orang awam dari banyak negara di Eropa Barat, dengan sedikit pimpinan terpusat, berjalan melalui tanah dan laut menuju Yerusalem dan menangkap kota tersebut pada Juli 1099, mendirikan Kerajaan Yerusalem atau kerajaan Latin di Yerusalem. Meskipun penguasaan ini hanya berakhir kurang dari dua ratus tahun, Perang salib merupakan titik balik penguasaan dunia Barat, dan satu-satunya yang berhasil meraih tujuannya.

Meskipun menjelang abad kesebelas sebagian besar Eropa memeluk agama Kristen secara formal — setiap anak dipermandikan, hierarki gereja telah ada untuk menempatkan setiap orang percaya di bawah bimbingan pastoral, pernikahan dilangsungkan di Gereja, dan orang yang sekarat menerima ritual gereja terakhir — namun Eropa tidak memperlihatkan diri sebagai Kerajaan Allah di dunia. Pertikaian selalu bermunculan di antara pangeran-pangeran Kristen, dan peperangan antara para bangsawan yang haus tanah membuat rakyat menderita.

Pada tahun 1088, seorang Perancis bernama Urbanus II menjadi Paus. Kepausannya itu ditandai dengan pertikaian raja Jerman, Henry IV — kelanjutan kebijakan pembaruan oleh Paus Gregorius VIII yang tidak menghasilkan apa-apa. Paus yang baru ini tidak ingin meneruskan pertikaian ini. Tetapi ia ingin menyatukan semua kerajaan Kristen. Ketika Kaisar Alexis dari Konstantinopel meminta bantuan Paus melawan orang-orang Muslim Turki, Urbanus melihat bahwa adanya musuh bersama ini akan membantu mencapai tujuannya.

Tidak masalah meskipun Paus telah mengucilkan patriark Konstantinopel, serta Katolik dan Kristen Ortodoks Timor tidak lagi merupakan satu gereja. Urbanus mencari jalan untuk menguasai Timur, sementara ia menemukan cara pengalihan bagi para pangeran Barat yang bertengkar terus.

Pada tahun 1095 Urbanus mengadakan Konsili Clermont. Di sana ia menyampaikan kotbahnya yang menggerakkan: "Telah tersebar sebuah cerita mengerikan ... sebuah golongan terkutuk yang sama sekali diasingkan Allah ... telah menyerang tanah (negara) orang Kristen dan memerangi penduduk setempat dengan pedang, menjarah dan membakar." Ia berseru: "Pisahkanlah daerah itu dari tangan bangsa yang jahat itu dan jadikanlah sebagai milikmu."

"Deus vult! Deus vult! (Allah menghendakinya)," teriak para peserta. Ungkapan itu telah menjadi slogan perang pasukan Perang Salib. Ketika para utusan Paus melintasi Eropa, merekrut para ksatria untuk pergi ke Palestina, mereka mendapatkan respons antusias dari pejuang-pejuang Perancis dan Italia. Banyak di antaranya tersentak karena tujuan agamawi, tetapi tidak diragukan juga bahwa yang lain berangkat untuk keuntungan ekonomi. Ada juga yang ingin berpetualang merampas kembali tanah peziarahan di Palestina, yang telah jatuh ke tangan Muslim.

Mungkin, para pejuang tersebut merasa bahwa membunuh seorang musuh non-Kristen adalah kebajikan. Membabat orang-orang kafir yang telah merampas tanah suci orang Kristen tampaknya seperti tindakan melayani Allah.

Untuk mendorong tentara Perang Salib, Urbanus dan para paus yang mengikutinya menekankan "keuntungan" spiritual dari perang melawan orang-orang Muslim itu. Dari sebuah halaman Bible, Urbanus meyakinkan para pejuang itu bahwa dengan melakukan perbuatan ini, mereka akan langsung masuk surga, atau sekurang-kurangnya dapat memperpendek waktu di api penyucian.

Dalam perjalanannya menuju tanah suci, para tentara Perang Salib berhenti di Konstantinopel. Selama mereka ada di sana, hanya satu hal yang ditunjukkan: Persatuan antara Timur dan Barat masih mustahil. Sang kaisar melihat para prajurit yang berpakaian besi itu sebagai ancaman bagi takhtanya. Ketika para tentara Perang Salib mengetahui bahwa Alexis telah membuat perjanjian dengan orang-orang Turki, mereka merasakan bahwa "pengkhianat" ini telah menggagalkan bagian pertama misi mereka: menghalau orang-orang Turki dari Konstantinopel.

Dengan bekal dari sang kaisar, pasukan tersebut melanjutkan perjalanannya ke selatan dan timur, menduduki kota-kota Antiokhia dan Yerusalem. Banjir darah mengikuti kemenangan mereka di Kota Suci itu. Taktik para tentara Perang Salib ialah "tidak membawa tawanan". Seorang pengamat yang merestui tindakan tersebut menulis bahwa para prajurit "menunggang kuda mereka dalam darah yang tingginya mencapai tali kekang kuda".

Setelah mendirikan kerajaan Latin di Yerusalem, dan dengan mengangkat Godfrey dari Bouillon sebagai penguasanya, mereka berubah sikap, dari penyerangan ke pertahanan. Mereka mulai membangun benteng-benteng baru, yang hingga kini, sebagian darinya masih terlihat.

Pada tahun-tahun berikutnya, terbentuklah ordo-ordo baru yang bersifat setengah militer dan setengah keagamaan. Ordo paling terkenal adalah Ordo Bait Allah (bahasa Inggris: Knights Templars) dan Ordo Rumah Sakit (bahasa Inggris: Knights Hospitalers). Meskipun pada awalnya dibentuk untuk membantu para tentara Perang Salib, mereka menjadi organisasi militer yang tangguh dan berdiri sendiri.

Perang Salib pertama merupakan yang paling sukses. Meskipun agak dramatis dan bersemangat, berbagai upaya kemiliteran ini tidak menahan orang-orang Muslim secara efektif.

1. Perang Salib Rakyat.
Perang Salib Rakyat adalah bagian dari Perang Salib pertama dan berakhir kira-kira enam bulan dari April 1096 sampai Oktober. Perang ini juga dikenal sebagai Perang Salib Populer.

2.Perang Salib Jerman.
Perang Salib Jerman 1096 adalah bagian dari Perang Salib pertama di mana tentara perang salib rakyat, kebanyakan dari Jerman, tidak menyerang Muslim namun orang Yahudi. Meskipun anti-semitisme telah ada di Eropa selama berabad-abad, ini merupakan pogrom massal pertama yang terorganisasi. Dalam beberapa kasus, otoritas dan pemimpin keagamaan berusaha melindungi orang Yahudi.
3.
Perang Salib 1101 adalah sebuah perang salib dari 3 gerakan yang terpisah, diatur tahun 1100 dan 1101 setelah kesuksesan Perang Salib Pertama.

Perang Salib Pertama yang berhasil menyarankan panggilan bantuan dari Kerajaan Yerusalem yang baru dibentuk, dan Paus Paschal II mendorong adanya ekspedisi baru. Ia terutama mendorong yang telah melakukan janji perang salib namun tidak pernah berangkat, dan yang telah memutar balik selama perjalanan. Beberapa orang ini telah menerima caci maki di rumahnya dan menghadapi tekanan agar kembali ke timur; Adela dari Blois, istri Stephen, Raja Blois, yang telah melarikan diri dari Pertempuran Antiokhia tahun 1098, juga sangat kecewa dengan suaminya bahwa dia tidak akan mempersilahkannya tinggal di rumah.
4.
Perang Salib Kedua

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Peta tahun 1140 yang menunjukan jatuhnya Edessa di sebelah kanan peta, yang merupakan sebab terjadinya Perang Salib Kedua.
Peta tahun 1140 yang menunjukan jatuhnya Edessa di sebelah kanan peta, yang merupakan sebab terjadinya Perang Salib Kedua.

Perang Salib Kedua (berlangsung dari sekitar tahun 1145 hingga tahun 1149) adalah Perang Salib kedua yang dilancarkan dari Eropa, yang dilaksanakan karena jatuhnya Kerajaan Edessa pada tahun sebelumnya. Edessa adalah negara-negara Tentara Salib yang didirikan pertama kali selama Perang Salib Pertama (1095–1099), dan juga yang pertama jatuh. Perang Salib Kedua diumumkan oleh Paus Eugenius III, dan merupakan Perang Salib pertama yang dipimpin oleh raja-raja Eropa, yaitu Louis VII dari Perancis dan Conrad III dari Jerman, dengan bantuan dari bangsawan-bangsawan Eropa penting lainnya. Pasukan-pasukan kedua raja tersebut bergerak menyebrangi Eropa secara terpisah melewati Eropa dan agak terhalang oleh kaisar Bizantium, Manuel I Comnenus; setelah melewati teritori Bizantium ke dalam Anatolia, pasukan-pasukan kedua raja tersebut dapat ditaklukan oleh orang Seljuk. Louis, Conrad, dan sisa dari pasukannya berhasil mencapai Yerusalem dan melakukan serangan yang "keliru" ke Damaskus pada tahun 1148. Perang Salib di Timur gagal dan merupakan kemenangan besar bagi orang Muslim. Kegagalan ini menyebabkan jatuhnya Kota Yerusalem dan Perang Salib Ketiga pada akhir abad ke-12.

Serangan-serangan yang berhasil hanya terjadi di luar laut Tengah. Bangsa Flem, Frisia, Normandia, Inggris, Skotlandia, dan beberapa tentara salib Jerman, melakukan perjalanan menuju Tanah Suci dengan kapal. Mereka berhenti dan membantu bangsa Portugis merebut Lisboa tahun 1147. Beberapa di antara mereka, yang telah berangkat lebih awal, membantu merebut Santarém pada tahun yang sama. Mereka juga membantu menguasai Sintra, Almada, Palmela dan Setúbal, dan dipersilahkan untuk tinggal di tanah yang telah ditaklukan, tempat mereka mendapatkan keturunan. Sementara itu, di Eropa Timur, Perang Salib Utara dimulai dengan usaha untuk merubah orang-orang yang menganut paganisme menjadi beragama Kristen, dan mereka harus berjuang selama berabad-abad.

Latar belakang

Setelah terjadinya Perang Salib Pertama dan Perang Salib 1101, terdapat tiga negara tentara salib yang didirikan di timur: Kerajaan Yerusalem, Kerajaan Antiokhia, dan Kerajaan Edessa. Kerajaan Tripoli didirikan pada tahun 1109. Edessa adalah negara yang secara geografis terletak paling utara dari keempat negara ini, dan juga merupakan negara yang paling lemah dan memiliki populasi yang kecil; oleh sebab itu, daerah ini sering diserang oleh negara Muslim yang dikuasai oleh Ortoqid, Danishmend, dan Seljuk. Baldwin II dan Joscelin dari Courtenay ditangkap akibat kekalahan mereka dalam pertempuran Harran tahun 1104. Baldwin dan Joscelin ditangkap kedua kalinya pada tahun 1122, dan meskipun Edessa kembali pulih setelah pertempuran Azaz pada tahun 1125, Joscelin dibunuh dalam pertempuran pada tahun 1131. Penerusnya, Joscelin II, dipaksa untuk bersekutu dengan kekaisaran Bizantium, namun, pada tahun 1143, baik kaisar kekaisaran Bizantium, John II Comnenus dan raja Yerusalem Fulk dari Anjou, meninggal dunia. Joscelin juga bertengkar dengan Raja Tripoli dan Pangeran Antiokhia, yang menyebabkan Edessa tidak memiliki sekutu yang kuat.

Sementara itu, Zengi, Atabeg dari Mosul, merebut Aleppo pada tahun 1128. Aleppo merupakan kunci kekuatan di Suriah. Baik Zengi dan raja Baldwin II mengubah perhatian mereka ke arah Damaskus; Baldwin dapat ditaklukan di luar kota pada tahun 1129. Damaskus yang dikuasai oleh Dinasti Burid, nantinya bersekutu dengan raja Fulk ketika Zengi mengepung kota Damaskus pada tahun 1139 dan tahun 1140; aliansi dinegosiasikan oleh penulis kronik Usamah ibn Munqidh.

Pada akhir tahun 1144, Joscelin II bersekutu dengan Ortoqid dan menyerang Edessa dengan hampir seluruh pasukannya untuk membantu Ortoqid Kara Aslan melawan Aleppo. Zengi, yang ingin mengambil keuntungan dalam kematian Fulk pada tahun 1143, dengan cepat bergerak ke utara untuk mengepung Edessa, yang akhirnya jatuh ketangannya setelah 1 bulan pada tanggal 24 Desember 1144. Manasses dari Hierges, Philip dari Milly dan lainnya dikirim ke Yerusalem untuk membantu, tetapi mereka sudah terlambat. Joscelin II terus menguasai sisa Turbessel, tetapi sedikit demi sedikit sisa daerah tersebut direbut atau dijual kepada Bizantium. Zengi sendiri memuji Islam sebagai "pelindung kepercayaan" dan al-Malik al-Mansur, "raja yang berjaya". Ia tidak menyerang sisa teritori Edessa, atau kerajaan Antiokhia, seperti yang telah ditakuti; peristiwa di Mosul memaksanya untuk pulang, dan ia sekali lagi mengamati Damaskus. Namun, ia dibunuh oleh seorang budak pada tahun 1146 dan digantikan di Aleppo oleh anaknya, Nuruddin. Joscelin berusaha untuk merebut kembali Edessa dengan terbunuhnya Zengi, tapi Nuruddin dapat mengalahkannya pada November 1146.

Monday, April 4, 2011

Kisah Luqman dan tiga org pelacur

Kisah Luqman yang bijaksana ada termaktub dalam surah al-Luqman dalam al-Quran. Pengarang kitab Al-Kasyaf menjelaskan, dia adalah Luqman bin Baa'ura'. Hidup selama 1000 tahun, sehingga berjumpa dengan Daud a.s belajar ilmu dan pengetahuan daripadanya. Ibnu Abbas berkata bahawa Luqman bukan Nabi, juga bukan Raja, namun seorang penggembala, berkulit hitam, yang kemudian diberi kurnia kemerdekaan dan ilmu pengetahuan.


Diriwayatkan oleh Sai'id bin Amir, ia berkata: " Telah bercerita kepada kami, Abu Ja'far, 'Luqman Al-Habasy' adalah seorang budak milik seorang lelaki. Suatu ketika dia dibawa ke pasar untuk di jual kepada seorang lelaki yang hendak membelinya, Luqman berkata:"Apa yang akan kamu lakukan terhadap diriku (setelah kamu beli nanti)?" Jawab lelaki itu, "Kamu akan ku suruh melakukan ini dan itu." "Aku mohon kepadamu agar mengurungkan niatmu untuk membeliku!" pinta Luqman. Sikap ini selalu diperlihatkan oleh Luqman kepada para calon pembelinya hingga datanglah calon pembeli lainnya. "Apa yang hendak kamu lakukan terhadap diriku (setelah kamu membeliku nanti)?" kata Luqman. "Kamu akan kuberi tugas sebagai penjaga rumahku," jawab lelaki calon pembelinya itu. "Jika demikian, aku mahu kamu beli!" kata Luqman.

Laki-laki tersebut kemudian membayar dan mengajak Luqman pulang ke rumahnya. Majikan Luqman mempunyai tiga orang anak gadis yang menjadi pelacur di desa itu. Pada suatu ketika majikannya ingin pergi ke kebunnya. Sebelum berangkat dia berpesan kepada Luqman: "Aku telah menyiapkan makanan dan semua keperluan mereka di dalam bilik. Sepeninggalanku, kuncilah pintu ini dan kamu harus berjaga di sini pula. Dan janganlah sekali-kali kamu membuka pintunya sebelum aku kembali ke rumah!"

Sejenak kemudian ketiga-tiga puteri majikannya datang dan berkata kepada Luqman, "Bukalah pintu ini!" Kerana telah menerima pesan dari majikan dan diamanahi untuk tidak membuka pintu dan namanya amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak, maka Luqman pun menolak untuk membukanya. Akhirnya ketiga-tiga gadis itu marah dan mencederainya. Luqman kemudian membersihkan darah yang membasahi tubuhnya dan kembali berjaga di depan pintu. Ketika majikan pulang dia tetap merahsiakan perilaku ketiga puteri majikan terhadapnya.

Pada hari berikutnya majikannya sekali pergi ke kebunnya. Sebagaimana sebelumnya dia berpesan kepada Luqman: "Aku telah menyiapkan makanan dan semua keperluan. Oleh kerana itu jangan membolehkan mereka membuka pintu ini!" Demikianlah, selepas pemergian ayahnya, ketiga puteri majikannya itu bergegas menemui Luqman dan berkata kepadanya: "Bukalah pintu ini!" Sementara itu Luqman masih tetap memegang amanah yang dibebankan kepadanya tetap tidak bersedia membukakannya sebagaimana pesan dari majikannya. Akan tetapi, ketiga gadis itu kembali menyerang dan melukai Luqman yang tetap duduk di tempatnya. Si majikan telah pulang ke rumah, Luqman sekali lagi tidak mahu menceritakan perihal perilaku ketiga puterinya.

Melihat keteguhan hati Luqman, puteri tertua majikannya kemudian rasa simpatinya datang dan berkata: "Mengapa budak Habasyi ini lebih mengutamakan ketaatan kepada Allah S.W.T berbanding aku? Demi Allah, aku akan bertaubat!" Dan puteri sulung majikan Luqman itu pun bertaubat kepada Allah S.W.T. Si bungsu berkata, "Mengapa budak Habasyi dan kakak sulungku lebih mengutamakan taat kepada Allah S.W.T? Demi Allah, aku juga akan bertaubat." Demikianlah si bongsu akhirnya mengikuti jejak kakak sulung dan keduanya dengan bertaubat. Setelah mengetahui bahawa kakak mahupun adiknya telah bertaubat, puteri kedua majikannya berkata "Mengapa dua orang saudaraku dan budak Habasyi ini lebih mengutamakan taat kepada Allah S.W.T berbanding aku? Demi aku, aku akan bertaubat juga!" Akhirnya dia pun bertaubat.

Setelah ketiga puterinya yang berkerja sebagai wanita penghibur itu bertaubat, maka rakan yang sama bekerja denganya di desa berkata,"Mengapa budak Habsyi dan ketiga gadis itu lebih mengutamakan taat kepada Allah S.W.T berbanding kami?" Hal tersebut mendorong mereka untuk bertaubat sebagaimana ketiga-tiga rakannya sehingga jadilah mereka sebagai orang yang beribadat di desa itu.

Demikianlah bahawa hidayah datangnya bukan lewat, dakwah bukanlah berupa ucapan sahaja tapi juga tindakan, atau amalan yang ditunjukkan oleh Luqman al-Hakim dalam memegang teguh amanah yang sudah menjadi tugasnya. Sehingga fitrah seorang manusia untuk selalu beribadah kepadaNya menjadi terpukul tatkala melihat seorang yang mampu menjalankan ibadah itu dengan baik.

Thursday, March 31, 2011

Rabiah Al Adawiyah

Rabiah Al Adawiyah: Perindu Kecintaan Allah

Rabiah binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang
miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya pula hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.

Pada akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan telah mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlumba-lumba mencari kekayaan. Justeru itu kejahatan dan maksiat tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup warak serta zuhud hampir lenyap sama sekali.

Namun begitu, Allah telah memelihara sebilangan kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka menghabiskan masa dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai hamba yang benar-benar taat.

Bapa Rabiah merupakan hamba yang sangat bertaqwa, tersingkir daripada kemewahan dunia dan tidak pernah letih bersyukur kepada Allah. Dia mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabiah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Quran sehigga berjaya menghafal kandungan al-Quran. Sejak kecil lagi Rabiah sememangnya berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta
keimanan yang mendalam.

Menjelang kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit. Keadaan itu semakin buruk setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Rabiah juga tidak terkecuali daripada ujian yang bertujuan membuktikan keteguhan iman. Ada riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam kancah
maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan asas keimanan yang belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat. Babak-babak taubat inilah yang mungkin dapat menyedar serta mendorong hati kita merasai cara yang sepatutnya seorang hamba brgantung
harap kepada belas ihsan Tuhannya.

Marilah kita teliti ucapan Rabiah sewaktu kesunyian di ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:

”Ya Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada segala yang ada yang boleh memesongkan diri daripada-Mu, daripada segala pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!”

”Tuhanku! bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di hadapan-Mu.”

”Tuhanku! Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan burung yang menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti keEsaan-Mu dan menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.”

Sekelian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik maksyuknya. Yang tinggal hanya Rabiah yang banyak kesalahan di hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya yang akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat kepada-Mu.

Rabiah juga pernah meraung memohon belas ihsan Allah SWT:

”Tuhanku! Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian kepada keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang mendalam dan kerana kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan. Engkaulah Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang terang, falak yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang berkerdipan dan setiap sesuatu di sisi-Mu dengan takdir sebab Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.”


Setiap malam begitulah keadaan Rabiah. Apabila fajar menyinsing, Rabiah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:

”Wahai Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti. Wahai malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya aku berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan takziah? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, nescaya aku akan tetap tidak bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu.”

Seperkara menarik tentang diri Rabiah ialah dia menolak lamaran untuk berkahwin dengan alasan:

”Perkahwinan itu memang perlu bagi sesiapa yang mempunyai pilihan. Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun.”

Rabiah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu dia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keredaan Allah. Rabiah telah
mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata. Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di hadapannya dan sentiasa membelek-beleknya setiap hari.

Selama 30 tahun dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini dalam sembahyangnya:

”Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu.”

Antara syairnya yang masyhur berbunyi:

Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun,
Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun,
Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun,
Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun.

Rabiah telah membentuk satu cara yang luar biasa di dalam mencintai Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk membersihkan hati dan jiwa. Dia memulakan fahaman sufinya dengan menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah seperti yang pernah
diluahkannya:

”Wahai Tuhanku! Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang mencintai-Mu dan lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut kepada-Mu?”

Kecintaan Rabiah kepada Allah berjaya melewati pengharapan untuk beroleh syurga Allah semata-mata.

Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana tamak kepada syurga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembah-Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.

Begitulah keadaan kehidupan Rabiah yang ditakdirkan Allah untuk diuji dengan keimanan serta kecintaan kepada-Nya. Rabiah meninggal dunia pada 135 Hijrah iaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga Allah meredainya, amin!

Sekarang mari kita tinjau diri sendiri pula. Adakah kita menyedari satu hakikat yang disebut oleh Allah di dalam Surah Ali Imran, ayat 142 yang bermaksud:

”Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang yang sabar.”

Bagaimana perasaan kita apabila insan yang kita kasihi menyinggung perasaan kita? Adakah kita terus berkecil hati dan meletakkan kesalahan kepada insan berkenaan? Tidak terlintaskah untuk merasakan di dalam hati seumpama ini:

”Ya Allah! Ampunilah aku. Sesungguhnya hanya Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hanya kasih-Mu yang abadi dan hanya hidup di sisi-Mu sahaja yang berkekalan. Selamatkanlah aku daripada tipu daya yang mengasyikkan.”

Sesungguhnya apa juga lintasan hati dan luahan rasa yang tercetus daripada kita bergantung kepada cara hati kita berhubung dengan Allah. Semakin kita kenali keluhuran cinta kepada Allah, maka bertambah erat pergantungan hati kita kepada Allah serta melahirkan keyakinan cinta dan
kasih yang sentiasa subur.

Lanjutan itu jiwa kita tidak mudah berasa kecewa dengan gelagat sesama insan yang pelbagai ragam. Keadaan begini sebenarnya terlebih dahulu perlu dipupuk dengan melihat serta merenungi alam yang terbentang luas ini sebagai anugerah besar daripada Allah untuk maslahat kehidupan manusia. Kemudian cubalah hitung betapa banyaknya nikmat Allah kepada kita.

Dengan itu kita akan sedar bahawa kita sebenarnya hanya bergantung kepada Allah. Bermula dari sini kita akan mampu membina perasaan cinta terhadap Allah yang kemudian mesti diperkukuhkan dengan mencintai titah perintah Allah. Mudah-mudahan nanti kita juga akan menjadi perindu cinta
Allah yang kekal abadi.


Wednesday, March 23, 2011

The Importance and Methodology of Tarbiyah

by Shaikh Ahmed Aways

Tarbiyah in Islam is very important, for indeed all of the Deen is based upon tarbiyah (i.e. the education and upbringing of the people). This starts first of all with the education and training of our own selves, then of our families, and then of the community at large. But this tarbiyah is most important with respect to our children, so that they are brought up upon the correct path of Islam. Because of this, many of the scholars take care in discussing this aspect of tarbiyah more so than the others.

After the benefit of al-Islam and our very creation, from the best of benefits is that of having children. We see their benefits both in this world and after we have passed to the next. As for the benefits in this world - when a person becomes old and unable to earn a livelihood, all of his friends and companions leave him alone and it is his children who look after and care for him, bearing his problems and burdens. As for after his death, then a person benefits from his children as the Prophet said: "When the son of Adam passes away, all of his deeds are stopped except for three. Some kind of charity that is continuous, or knowledge which the people are benefiting from, or a righteous child who is praying for him."

Also from the benefits of having children is that if they were to pass away whilst still children, they will intercede for their parents. This is authentically reported from the Prophet , who said: "There is no Muslim individual, male or female, who has three of his children pass away whilst they are young and he is patient with that, except that they will come and intercede for him on the Day of Judgment." So 'Umar asked, 'What about two [children]?' Upon this the Prophet said, "It is the same for two [children]." (Al-Bazzaar, al-Haakim. Sh. al-Albaanee mentions it in his book, Kitaabul-Janaa-iz)

As for the person who has one child who passes away and he is patient with this, seeking his reward from Allah , then he shall also find a great reward with Him. As in a hadeeth wherein it is reported that the Prophet used to sit down in his sitting place and his companions would sit in front of him to seek benefit and learn from him. From amongst them was a man who had a small boy; he used to come to the Prophet from behind his back by way of respect, then he used to sit in front of him and sit his son in front of the Prophet . The Prophet asked, "Do you love this child of yours?" The man replied, "Yes, and may Allah cause you to love him also." Then it happened that this child passed away, and the man was so sad that he used to refrain from coming to sit with the Prophet . So the Prophet asked his companions about this man saying, "Why is it that he no longer comes to my sitting place?" And this was from the Sunnah of the Prophet , that if he had people who would come to him and then stop coming, he would ask about their condition and their affairs. So the companions told him that the man's son had passed away and that he was sad because of that. So the Prophet went to meet this man and asked him, "What has happened to your son?" And the man told him that he had passed away. So the Prophet said, "Do you wish that your son could be here with you spending time with you, or do you prefer that your son would reach Paradise before you, waiting at the Doors of Paradise to open them for you?" So the man said, "O Messenger of Allah. I wish that my son would go forth before me and precede me to Paradise." So the Prophet said to him, "Verily, this is for you." So upon this, one of the companions said, "O Messenger of Allah, may I be sacrificed for your sake! Is this (reward) only for this man or is it for all of the people?" He said, "No, this reward is for all of the people (i.e. those who lose a child and are patient with their loss)." (Al-Haakim. Adh-Dhahabee declared it Saheeh as did Sh. Al-Albaanee)

Also from the benefits of having children is that if one has daughters and is patient with them, bringing them up correctly, then for him is a great reward from Allah. Our mother Aa'ishah said, "A woman with two daughters and who was very poor came to my door requesting charity. All I had was three dates, so I gave them to this woman and her two daughters. The woman gave a date to each of her daughters and kept the third date for herself. But when the two daughters had finished their dates, they both looked up to their mother wanting the date which she had. So she felt mercy for her two daughters and split the date into two halves, she gave a half to each of her daughters and then she went away. When the Prophet came back I informed him about what had happened. He said, 'Anyone who has daughters and is good in bringing them up, then they will be as a barrier between him and the Hell-Fire'." (Bukhari & Muslim)

It is obligatory for the parents to take care of their children as the responsibility for them is upon their shoulders. As the Prophet said, "All of you are shepherds and will are responsible for his flock." Unfortunately, many of the people look down upon this affair of bringing up the children correctly and consider it as a small matter and unimportant, instead busying themselves which affairs such as politics and those things which it may be beyond their ability to reach. They look to those things which are seen as more important and so look down upon the affair of raising their children correctly. In this, they are mistaken, as whoever the Imam or the leader of the believers may be, even if he was the most righteous of all righteous people and the most just of all rulers, if a person does not take care of their own affairs then no-one else is going to come into their house and look after their children for them. And if this Imam was the worst of all the people, yet a person was to take care of their own family as is his responsibility, then how is his harm and his condition going to affect that person? Allah says,

"Verily! Allah will not change the good condition of a people as long as they do not change their state of goodness themselves." [Qur'an Ra'd 13:11]

So it is upon us to change our own condition and the condition of our own families, and then to look to the condition of our communities and the community of the Muslims at large. For if we were to neglect this responsibility then we would never achieve the correct tarbiyah - training, upbringing and education - of our societies.

Indeed the Book of Allah (Qur'an) and the Sunnah of the Prophet encourage us to bring up our children correctly; ordering us with righteousness and good conduct ourselves as well as ordering us to prevent our families from falling into that which would result in their own destruction. As Allah says,

"O you who believe! Ward off from yourselves and your families a Fire (Hell) whose fuel is men and stones." [Qur'an Tahrim 66:6]

And He says,

"And enjoin Prayer on your family, and be patient in offering them (i.e. the Prayers)." [Qur'an Ta-Ha 20:132]

The Prophet said, "Order your children with Salah when they are seven years old, and beat them upon it (i.e. force them to do so by hitting them) when they are ten years old, and (also) separate them in their sleeping place." So by the preceding Ayat and hadeeth, Allah and the Prophet teach the believers about the importance of Salah and worship, and also in the hadeeth the Prophet is teaching his Ummah about how to live this life free from all types of doubts and misconceptions, by avoiding those places and situations where such doubts and misconceptions may arise. So the order is that one should raise one's children upon the most blessed and praiseworthy of characteristics.

So what follows are some practical steps in bringing up the family correctly.

Seeking Righteous Children

When an individual wants to get married, they should have the intention to have - and ask Allah to give them - righteous children. They should be patient upon this and seek their children with the correct intention i.e. to increase the number of the Prophet's Ummah, and seek Allah's reward in this life and the Hereafter by way of his children. As the Prophet said, "Marry those women who are loving and fertile, for verily I want to be amongst those (Prophets) who have the most followers on the Day of Judgement." So when a person gets married he should seek children with the intention to have many children which will go towards making up the Ummah of the Prophet and that these children may become righteous slaves of Allah so that he may benefit from them in this world and the Hereafter. This is because the intention has a special and important place with regard to the outcome, as the Prophet said, "Verily, every action is by its intention." So if one has the correct intention at the beginning of the action, then he has its correct fruits at the end.

Setting A Good Example

The parent should be a good and the best example for their children. They should hasten to do all good and, likewise, hasten to leave all evil. This is because children follow the example of their parents as they love them and respect and admire them. So the parents are the greatest of all examples for their children. Therefore, whatever the parents are upon, the children follow them. It is not possible, however one may try, to hide one's evil characteristics from their children. A person may go into his home, closing the door behind them, but it is the children who know the reality of their affairs. They know how their character truly is, what they watch and what they see, and they know their situation perfectly. So we should try and be good examples to our children; having the best characteristics, being good towards the people, and remaining upright in our Deen.

Placing Importance Upon The Deen

The parent should make the most important affair in his life and that of his child the Religion. They should raise their child to know that the most important aspect of his life is that he be upright in his Deen, correcting it and clinging to it firmly. Allah said,

"And this (submission to Allah, Islam) was enjoined by Ibrahem upon his sons and by Ya'qoob (as), (saying), 'O my sons! Allah has chosen for you the (true) Religion, then die not except in the Faith of Islam." [Qur'an Baqarah 2:132]

And He says,

"And he made it (i.e. Laa ilaha illAllah - none has the right to be worshipped but Allah Alone) a Word lasting among his offspring (True Monotheism), that they may turn back (i.e. repent to Allah or receive admonition)." [Qur'an Zukhruf 43:28]

So this should be our greatest concern with regard to our children, that we make clear to them the importance of their Religion and their being upright. We should not be concerned with their Dunya i.e. that they bring home food or drink or wealth, rather we should be most concerned with their remaining upright Muslims. After this, the believer should make du'a to Allah and supplicate to Him that He guide his children and make them upright, for indeed there is no power nor strength except in Allah. No one has the ability to guide his children himself, or to keep them upon the straight path, rather this is in the Hands of Allah. So one should make du'a to Allah as His prophets did before. Allah says that the believers say,

"Our Lord! Bestow on us from our wives and our offspring who will be the comfort of our eyes, and make us leaders for the Muttaqoon (i.e. pious and righteous persons who fear Allah much [abstain from all kinds of sins and evil deeds which He has forbidden] and love Allah much [perform all kinds of good deeds which He has ordained])." [Qur'an Furqan 25:74]

And also Prophet Ibrahem (as) mentioned in a long du'a,

"O my Lord! Make me one who offers prayers perfectly, and (also) from my offspring, our Lord! And accept my invocation." [Qur'an Ibrahim 14:40]

So we should follow this example of the prophets in making du'a to Allah and taking the necessary steps in educating and bringing up our children upon this Deen, and asking Allah to keep them upright in their Religion. The Ayah which was previously mentioned is general for all of the believers. That is, that when one reaches the age of 40 he should make du'a for his parents and that Allah should keep him upon the Guidance, and he also makes du'a that Allah keeps his children upright and correct their affairs.

Showing Love & Kindness Towards One's Children

The parent should control his affair with love, kindness and softness, and should not always use harshness and beating to bring up his children. Rather, he should make his way to be primarily a loving and concerned way. However, if the situation requires that he should also use harshness and hardness and even hitting his children, then he should do so as and when the situation requires it, but he should not make this his way i.e. that he is always hard and harsh towards his children. We should not be like those people who are always hard upon their children as this may lead them towards further corruption and going astray. Neither should we be like many of the Europeans are i.e. that they leave their children without any discipline so that they follow whatever way they like and do whatever they like. Rather we should take the middle course (balanced), sometimes using harshness and sometimes softness, according to the situation. We should always try to exercise balance in raising our children, balancing their affairs correctly and making the uppermost characteristic that of kindness, softness and mercy.

Teaching Good Character

The parent should raise his children upon good character from a young age. He should teach them the Qur'an, the Seerah of the Prophet and that of the Companions also (ra). One should not leave his children to continue making mistakes saying that he will correct them when they get older, because indeed it becomes increasingly more difficult to correct a person when he has grown up upon incorrect actions and bad characteristics. As a poet said, "Whoever grows up upon something, he grows old upon that same thing." So we should teach our children from a young age the correct Aqeedah and belief, for example that Allah is above His Throne, and we should teach them love for the Prophet and his Companions (ra). We should also teach them aspects of good character, like being courageous, kind, generous and modest etc. Then if one of our children makes a mistake, we should point out this mistake to them and explain that the action is wrong, not leaving them and saying 'they are just children' or that we will tell them when they grow older. This is because of the saying, "Whoever grows up upon something, he grows old upon that that same thing." And from the guidance of the Prophet is that he used to train and bring up the children from a young age upon good manners and character. As can be seen in the hadeeth of Hasan , in which he narrates how he once took a date from the dates of Sadaqa, and the Prophet shouted at him and told him to take the date out of his mouth. The Prophet explained to him that the dates were for Sadaqa, and that Sadaqa was not allowed for the Prophet or his family. So the Prophet did not leave Hasan alone, rather he reprimanded him for what he did and explained to him the correct way, using intelligence and Hikmah. Likewise in the hadith of the son of Umm Salamah, who narrated that he used to stay in the house of the Prophet , and that he used to eat in an incorrect way i.e. from everywhere in the plate. So the Prophet said to him, "O boy! Mention Allah's Name i.e. say 'Bismillah', eat with your right hand and eat that which is in front of you. So this Sahabah went on to narrate that he continued to practise this etiquette of eating until that day (i.e. until he had become older). This shows that the Prophet would correct the children by pointing out their mistakes, and also he did so in such a way that they would continue upon the correct way which he had taught them until they became older.

Exercising Justice With Regard To One's Children

The parent should not oppress or wrong any of his children. He should not show one of his children due favour more so than the other, by giving him more than his other children or praising him more than any of the others. Indeed this type of oppression and favouritism can be a reason for the children swaying from the correct path and developing personal problems later on in life. The Prophet said, "Fear Allah and be just with regard to your children." Indeed, being just can positively affect the children's tarbiyah, just as being unjust can have negative affects upon their tarbiyah. Of these negative effects is that the child may feel that if he cannot find justice with his own parents, then who can he find justice with? And he may carry this problem and this feeling in his heart all of his life.

Spending Upon One's Children

The parents, both the mother and the father, should spend upon their children. They should take the necessary steps to earn money and spend upon their children correctly. Indeed, anything, which one spends upon his family with the correct intention, will have a reward for it. As in the hadeeth of Sa'd ibn Ma'aadh , who narrated that the Prophet said, "There is nothing that you spend upon your families, even the food that you put into the mouth of your wife, except that you will get a reward for it." Also there is a hadeeth which is collected by Muslim, which states the importance of spending upon the family and that it is the best of all actions with which one draws nearer to Allah . In this hadeeth the Prophet said, "Two dinaars which you spend in the way of Allah, or two dinaars which you spend by way of sadaqah (charity), or two dinaars which you give to the miskeen (poor), or the two dinaars which you give to your family - with which of these is the greatest reward? Indeed the greatest of these as regards reward is that dinaar which you spend upon your family."

So, in conclusion, everyone should take care of his family, for if it were the case that everyone in society were to take care of the upbringing of their families and their financial needs, then this would be good for the society as a whole. And if everyone were to leave the affairs of their families and their children, then this would lead to the corruption of the society and poverty would be widespread. By spending upon our families and taking care of their tarbiyah, this is how we train them and help them to remain upright upon this Deen of Al-Islam.