Friday, April 8, 2011

SEJARAH PERANG SALIB

Awal mula Perang Salib adalah Perang antar Gereja dan Yahudi, jadi bukan bermula Perang antara Kristen dan Islam, yang penengertian umum saat ini.
Berkut adalah Riwayatnya:

Perang Salib Pertama dilancarkan pada 1095 oleh Paus Urban II untuk mengambil kuasa kota suci Yerusalem dan tanah suci Kristen dari Muslim. Apa yang dimulai sebagai panggilan kecil untuk meminta bantuan dengan cepat berubah menjadi migrasi dan penaklukan keseluruhan wilayah di luar Eropa
Baik ksatria dan orang awam dari banyak negara di Eropa Barat, dengan sedikit pimpinan terpusat, berjalan melalui tanah dan laut menuju Yerusalem dan menangkap kota tersebut pada Juli 1099, mendirikan Kerajaan Yerusalem atau kerajaan Latin di Yerusalem. Meskipun penguasaan ini hanya berakhir kurang dari dua ratus tahun, Perang salib merupakan titik balik penguasaan dunia Barat, dan satu-satunya yang berhasil meraih tujuannya.

Meskipun menjelang abad kesebelas sebagian besar Eropa memeluk agama Kristen secara formal — setiap anak dipermandikan, hierarki gereja telah ada untuk menempatkan setiap orang percaya di bawah bimbingan pastoral, pernikahan dilangsungkan di Gereja, dan orang yang sekarat menerima ritual gereja terakhir — namun Eropa tidak memperlihatkan diri sebagai Kerajaan Allah di dunia. Pertikaian selalu bermunculan di antara pangeran-pangeran Kristen, dan peperangan antara para bangsawan yang haus tanah membuat rakyat menderita.

Pada tahun 1088, seorang Perancis bernama Urbanus II menjadi Paus. Kepausannya itu ditandai dengan pertikaian raja Jerman, Henry IV — kelanjutan kebijakan pembaruan oleh Paus Gregorius VIII yang tidak menghasilkan apa-apa. Paus yang baru ini tidak ingin meneruskan pertikaian ini. Tetapi ia ingin menyatukan semua kerajaan Kristen. Ketika Kaisar Alexis dari Konstantinopel meminta bantuan Paus melawan orang-orang Muslim Turki, Urbanus melihat bahwa adanya musuh bersama ini akan membantu mencapai tujuannya.

Tidak masalah meskipun Paus telah mengucilkan patriark Konstantinopel, serta Katolik dan Kristen Ortodoks Timor tidak lagi merupakan satu gereja. Urbanus mencari jalan untuk menguasai Timur, sementara ia menemukan cara pengalihan bagi para pangeran Barat yang bertengkar terus.

Pada tahun 1095 Urbanus mengadakan Konsili Clermont. Di sana ia menyampaikan kotbahnya yang menggerakkan: "Telah tersebar sebuah cerita mengerikan ... sebuah golongan terkutuk yang sama sekali diasingkan Allah ... telah menyerang tanah (negara) orang Kristen dan memerangi penduduk setempat dengan pedang, menjarah dan membakar." Ia berseru: "Pisahkanlah daerah itu dari tangan bangsa yang jahat itu dan jadikanlah sebagai milikmu."

"Deus vult! Deus vult! (Allah menghendakinya)," teriak para peserta. Ungkapan itu telah menjadi slogan perang pasukan Perang Salib. Ketika para utusan Paus melintasi Eropa, merekrut para ksatria untuk pergi ke Palestina, mereka mendapatkan respons antusias dari pejuang-pejuang Perancis dan Italia. Banyak di antaranya tersentak karena tujuan agamawi, tetapi tidak diragukan juga bahwa yang lain berangkat untuk keuntungan ekonomi. Ada juga yang ingin berpetualang merampas kembali tanah peziarahan di Palestina, yang telah jatuh ke tangan Muslim.

Mungkin, para pejuang tersebut merasa bahwa membunuh seorang musuh non-Kristen adalah kebajikan. Membabat orang-orang kafir yang telah merampas tanah suci orang Kristen tampaknya seperti tindakan melayani Allah.

Untuk mendorong tentara Perang Salib, Urbanus dan para paus yang mengikutinya menekankan "keuntungan" spiritual dari perang melawan orang-orang Muslim itu. Dari sebuah halaman Bible, Urbanus meyakinkan para pejuang itu bahwa dengan melakukan perbuatan ini, mereka akan langsung masuk surga, atau sekurang-kurangnya dapat memperpendek waktu di api penyucian.

Dalam perjalanannya menuju tanah suci, para tentara Perang Salib berhenti di Konstantinopel. Selama mereka ada di sana, hanya satu hal yang ditunjukkan: Persatuan antara Timur dan Barat masih mustahil. Sang kaisar melihat para prajurit yang berpakaian besi itu sebagai ancaman bagi takhtanya. Ketika para tentara Perang Salib mengetahui bahwa Alexis telah membuat perjanjian dengan orang-orang Turki, mereka merasakan bahwa "pengkhianat" ini telah menggagalkan bagian pertama misi mereka: menghalau orang-orang Turki dari Konstantinopel.

Dengan bekal dari sang kaisar, pasukan tersebut melanjutkan perjalanannya ke selatan dan timur, menduduki kota-kota Antiokhia dan Yerusalem. Banjir darah mengikuti kemenangan mereka di Kota Suci itu. Taktik para tentara Perang Salib ialah "tidak membawa tawanan". Seorang pengamat yang merestui tindakan tersebut menulis bahwa para prajurit "menunggang kuda mereka dalam darah yang tingginya mencapai tali kekang kuda".

Setelah mendirikan kerajaan Latin di Yerusalem, dan dengan mengangkat Godfrey dari Bouillon sebagai penguasanya, mereka berubah sikap, dari penyerangan ke pertahanan. Mereka mulai membangun benteng-benteng baru, yang hingga kini, sebagian darinya masih terlihat.

Pada tahun-tahun berikutnya, terbentuklah ordo-ordo baru yang bersifat setengah militer dan setengah keagamaan. Ordo paling terkenal adalah Ordo Bait Allah (bahasa Inggris: Knights Templars) dan Ordo Rumah Sakit (bahasa Inggris: Knights Hospitalers). Meskipun pada awalnya dibentuk untuk membantu para tentara Perang Salib, mereka menjadi organisasi militer yang tangguh dan berdiri sendiri.

Perang Salib pertama merupakan yang paling sukses. Meskipun agak dramatis dan bersemangat, berbagai upaya kemiliteran ini tidak menahan orang-orang Muslim secara efektif.

1. Perang Salib Rakyat.
Perang Salib Rakyat adalah bagian dari Perang Salib pertama dan berakhir kira-kira enam bulan dari April 1096 sampai Oktober. Perang ini juga dikenal sebagai Perang Salib Populer.

2.Perang Salib Jerman.
Perang Salib Jerman 1096 adalah bagian dari Perang Salib pertama di mana tentara perang salib rakyat, kebanyakan dari Jerman, tidak menyerang Muslim namun orang Yahudi. Meskipun anti-semitisme telah ada di Eropa selama berabad-abad, ini merupakan pogrom massal pertama yang terorganisasi. Dalam beberapa kasus, otoritas dan pemimpin keagamaan berusaha melindungi orang Yahudi.
3.
Perang Salib 1101 adalah sebuah perang salib dari 3 gerakan yang terpisah, diatur tahun 1100 dan 1101 setelah kesuksesan Perang Salib Pertama.

Perang Salib Pertama yang berhasil menyarankan panggilan bantuan dari Kerajaan Yerusalem yang baru dibentuk, dan Paus Paschal II mendorong adanya ekspedisi baru. Ia terutama mendorong yang telah melakukan janji perang salib namun tidak pernah berangkat, dan yang telah memutar balik selama perjalanan. Beberapa orang ini telah menerima caci maki di rumahnya dan menghadapi tekanan agar kembali ke timur; Adela dari Blois, istri Stephen, Raja Blois, yang telah melarikan diri dari Pertempuran Antiokhia tahun 1098, juga sangat kecewa dengan suaminya bahwa dia tidak akan mempersilahkannya tinggal di rumah.
4.
Perang Salib Kedua

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Peta tahun 1140 yang menunjukan jatuhnya Edessa di sebelah kanan peta, yang merupakan sebab terjadinya Perang Salib Kedua.
Peta tahun 1140 yang menunjukan jatuhnya Edessa di sebelah kanan peta, yang merupakan sebab terjadinya Perang Salib Kedua.

Perang Salib Kedua (berlangsung dari sekitar tahun 1145 hingga tahun 1149) adalah Perang Salib kedua yang dilancarkan dari Eropa, yang dilaksanakan karena jatuhnya Kerajaan Edessa pada tahun sebelumnya. Edessa adalah negara-negara Tentara Salib yang didirikan pertama kali selama Perang Salib Pertama (1095–1099), dan juga yang pertama jatuh. Perang Salib Kedua diumumkan oleh Paus Eugenius III, dan merupakan Perang Salib pertama yang dipimpin oleh raja-raja Eropa, yaitu Louis VII dari Perancis dan Conrad III dari Jerman, dengan bantuan dari bangsawan-bangsawan Eropa penting lainnya. Pasukan-pasukan kedua raja tersebut bergerak menyebrangi Eropa secara terpisah melewati Eropa dan agak terhalang oleh kaisar Bizantium, Manuel I Comnenus; setelah melewati teritori Bizantium ke dalam Anatolia, pasukan-pasukan kedua raja tersebut dapat ditaklukan oleh orang Seljuk. Louis, Conrad, dan sisa dari pasukannya berhasil mencapai Yerusalem dan melakukan serangan yang "keliru" ke Damaskus pada tahun 1148. Perang Salib di Timur gagal dan merupakan kemenangan besar bagi orang Muslim. Kegagalan ini menyebabkan jatuhnya Kota Yerusalem dan Perang Salib Ketiga pada akhir abad ke-12.

Serangan-serangan yang berhasil hanya terjadi di luar laut Tengah. Bangsa Flem, Frisia, Normandia, Inggris, Skotlandia, dan beberapa tentara salib Jerman, melakukan perjalanan menuju Tanah Suci dengan kapal. Mereka berhenti dan membantu bangsa Portugis merebut Lisboa tahun 1147. Beberapa di antara mereka, yang telah berangkat lebih awal, membantu merebut Santarém pada tahun yang sama. Mereka juga membantu menguasai Sintra, Almada, Palmela dan Setúbal, dan dipersilahkan untuk tinggal di tanah yang telah ditaklukan, tempat mereka mendapatkan keturunan. Sementara itu, di Eropa Timur, Perang Salib Utara dimulai dengan usaha untuk merubah orang-orang yang menganut paganisme menjadi beragama Kristen, dan mereka harus berjuang selama berabad-abad.

Latar belakang

Setelah terjadinya Perang Salib Pertama dan Perang Salib 1101, terdapat tiga negara tentara salib yang didirikan di timur: Kerajaan Yerusalem, Kerajaan Antiokhia, dan Kerajaan Edessa. Kerajaan Tripoli didirikan pada tahun 1109. Edessa adalah negara yang secara geografis terletak paling utara dari keempat negara ini, dan juga merupakan negara yang paling lemah dan memiliki populasi yang kecil; oleh sebab itu, daerah ini sering diserang oleh negara Muslim yang dikuasai oleh Ortoqid, Danishmend, dan Seljuk. Baldwin II dan Joscelin dari Courtenay ditangkap akibat kekalahan mereka dalam pertempuran Harran tahun 1104. Baldwin dan Joscelin ditangkap kedua kalinya pada tahun 1122, dan meskipun Edessa kembali pulih setelah pertempuran Azaz pada tahun 1125, Joscelin dibunuh dalam pertempuran pada tahun 1131. Penerusnya, Joscelin II, dipaksa untuk bersekutu dengan kekaisaran Bizantium, namun, pada tahun 1143, baik kaisar kekaisaran Bizantium, John II Comnenus dan raja Yerusalem Fulk dari Anjou, meninggal dunia. Joscelin juga bertengkar dengan Raja Tripoli dan Pangeran Antiokhia, yang menyebabkan Edessa tidak memiliki sekutu yang kuat.

Sementara itu, Zengi, Atabeg dari Mosul, merebut Aleppo pada tahun 1128. Aleppo merupakan kunci kekuatan di Suriah. Baik Zengi dan raja Baldwin II mengubah perhatian mereka ke arah Damaskus; Baldwin dapat ditaklukan di luar kota pada tahun 1129. Damaskus yang dikuasai oleh Dinasti Burid, nantinya bersekutu dengan raja Fulk ketika Zengi mengepung kota Damaskus pada tahun 1139 dan tahun 1140; aliansi dinegosiasikan oleh penulis kronik Usamah ibn Munqidh.

Pada akhir tahun 1144, Joscelin II bersekutu dengan Ortoqid dan menyerang Edessa dengan hampir seluruh pasukannya untuk membantu Ortoqid Kara Aslan melawan Aleppo. Zengi, yang ingin mengambil keuntungan dalam kematian Fulk pada tahun 1143, dengan cepat bergerak ke utara untuk mengepung Edessa, yang akhirnya jatuh ketangannya setelah 1 bulan pada tanggal 24 Desember 1144. Manasses dari Hierges, Philip dari Milly dan lainnya dikirim ke Yerusalem untuk membantu, tetapi mereka sudah terlambat. Joscelin II terus menguasai sisa Turbessel, tetapi sedikit demi sedikit sisa daerah tersebut direbut atau dijual kepada Bizantium. Zengi sendiri memuji Islam sebagai "pelindung kepercayaan" dan al-Malik al-Mansur, "raja yang berjaya". Ia tidak menyerang sisa teritori Edessa, atau kerajaan Antiokhia, seperti yang telah ditakuti; peristiwa di Mosul memaksanya untuk pulang, dan ia sekali lagi mengamati Damaskus. Namun, ia dibunuh oleh seorang budak pada tahun 1146 dan digantikan di Aleppo oleh anaknya, Nuruddin. Joscelin berusaha untuk merebut kembali Edessa dengan terbunuhnya Zengi, tapi Nuruddin dapat mengalahkannya pada November 1146.

Monday, April 4, 2011

Kisah Luqman dan tiga org pelacur

Kisah Luqman yang bijaksana ada termaktub dalam surah al-Luqman dalam al-Quran. Pengarang kitab Al-Kasyaf menjelaskan, dia adalah Luqman bin Baa'ura'. Hidup selama 1000 tahun, sehingga berjumpa dengan Daud a.s belajar ilmu dan pengetahuan daripadanya. Ibnu Abbas berkata bahawa Luqman bukan Nabi, juga bukan Raja, namun seorang penggembala, berkulit hitam, yang kemudian diberi kurnia kemerdekaan dan ilmu pengetahuan.


Diriwayatkan oleh Sai'id bin Amir, ia berkata: " Telah bercerita kepada kami, Abu Ja'far, 'Luqman Al-Habasy' adalah seorang budak milik seorang lelaki. Suatu ketika dia dibawa ke pasar untuk di jual kepada seorang lelaki yang hendak membelinya, Luqman berkata:"Apa yang akan kamu lakukan terhadap diriku (setelah kamu beli nanti)?" Jawab lelaki itu, "Kamu akan ku suruh melakukan ini dan itu." "Aku mohon kepadamu agar mengurungkan niatmu untuk membeliku!" pinta Luqman. Sikap ini selalu diperlihatkan oleh Luqman kepada para calon pembelinya hingga datanglah calon pembeli lainnya. "Apa yang hendak kamu lakukan terhadap diriku (setelah kamu membeliku nanti)?" kata Luqman. "Kamu akan kuberi tugas sebagai penjaga rumahku," jawab lelaki calon pembelinya itu. "Jika demikian, aku mahu kamu beli!" kata Luqman.

Laki-laki tersebut kemudian membayar dan mengajak Luqman pulang ke rumahnya. Majikan Luqman mempunyai tiga orang anak gadis yang menjadi pelacur di desa itu. Pada suatu ketika majikannya ingin pergi ke kebunnya. Sebelum berangkat dia berpesan kepada Luqman: "Aku telah menyiapkan makanan dan semua keperluan mereka di dalam bilik. Sepeninggalanku, kuncilah pintu ini dan kamu harus berjaga di sini pula. Dan janganlah sekali-kali kamu membuka pintunya sebelum aku kembali ke rumah!"

Sejenak kemudian ketiga-tiga puteri majikannya datang dan berkata kepada Luqman, "Bukalah pintu ini!" Kerana telah menerima pesan dari majikan dan diamanahi untuk tidak membuka pintu dan namanya amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak, maka Luqman pun menolak untuk membukanya. Akhirnya ketiga-tiga gadis itu marah dan mencederainya. Luqman kemudian membersihkan darah yang membasahi tubuhnya dan kembali berjaga di depan pintu. Ketika majikan pulang dia tetap merahsiakan perilaku ketiga puteri majikan terhadapnya.

Pada hari berikutnya majikannya sekali pergi ke kebunnya. Sebagaimana sebelumnya dia berpesan kepada Luqman: "Aku telah menyiapkan makanan dan semua keperluan. Oleh kerana itu jangan membolehkan mereka membuka pintu ini!" Demikianlah, selepas pemergian ayahnya, ketiga puteri majikannya itu bergegas menemui Luqman dan berkata kepadanya: "Bukalah pintu ini!" Sementara itu Luqman masih tetap memegang amanah yang dibebankan kepadanya tetap tidak bersedia membukakannya sebagaimana pesan dari majikannya. Akan tetapi, ketiga gadis itu kembali menyerang dan melukai Luqman yang tetap duduk di tempatnya. Si majikan telah pulang ke rumah, Luqman sekali lagi tidak mahu menceritakan perihal perilaku ketiga puterinya.

Melihat keteguhan hati Luqman, puteri tertua majikannya kemudian rasa simpatinya datang dan berkata: "Mengapa budak Habasyi ini lebih mengutamakan ketaatan kepada Allah S.W.T berbanding aku? Demi Allah, aku akan bertaubat!" Dan puteri sulung majikan Luqman itu pun bertaubat kepada Allah S.W.T. Si bungsu berkata, "Mengapa budak Habasyi dan kakak sulungku lebih mengutamakan taat kepada Allah S.W.T? Demi Allah, aku juga akan bertaubat." Demikianlah si bongsu akhirnya mengikuti jejak kakak sulung dan keduanya dengan bertaubat. Setelah mengetahui bahawa kakak mahupun adiknya telah bertaubat, puteri kedua majikannya berkata "Mengapa dua orang saudaraku dan budak Habasyi ini lebih mengutamakan taat kepada Allah S.W.T berbanding aku? Demi aku, aku akan bertaubat juga!" Akhirnya dia pun bertaubat.

Setelah ketiga puterinya yang berkerja sebagai wanita penghibur itu bertaubat, maka rakan yang sama bekerja denganya di desa berkata,"Mengapa budak Habsyi dan ketiga gadis itu lebih mengutamakan taat kepada Allah S.W.T berbanding kami?" Hal tersebut mendorong mereka untuk bertaubat sebagaimana ketiga-tiga rakannya sehingga jadilah mereka sebagai orang yang beribadat di desa itu.

Demikianlah bahawa hidayah datangnya bukan lewat, dakwah bukanlah berupa ucapan sahaja tapi juga tindakan, atau amalan yang ditunjukkan oleh Luqman al-Hakim dalam memegang teguh amanah yang sudah menjadi tugasnya. Sehingga fitrah seorang manusia untuk selalu beribadah kepadaNya menjadi terpukul tatkala melihat seorang yang mampu menjalankan ibadah itu dengan baik.

Thursday, March 31, 2011

Rabiah Al Adawiyah

Rabiah Al Adawiyah: Perindu Kecintaan Allah

Rabiah binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang
miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya pula hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.

Pada akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan telah mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlumba-lumba mencari kekayaan. Justeru itu kejahatan dan maksiat tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup warak serta zuhud hampir lenyap sama sekali.

Namun begitu, Allah telah memelihara sebilangan kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka menghabiskan masa dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai hamba yang benar-benar taat.

Bapa Rabiah merupakan hamba yang sangat bertaqwa, tersingkir daripada kemewahan dunia dan tidak pernah letih bersyukur kepada Allah. Dia mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabiah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Quran sehigga berjaya menghafal kandungan al-Quran. Sejak kecil lagi Rabiah sememangnya berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta
keimanan yang mendalam.

Menjelang kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit. Keadaan itu semakin buruk setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Rabiah juga tidak terkecuali daripada ujian yang bertujuan membuktikan keteguhan iman. Ada riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam kancah
maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan asas keimanan yang belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat. Babak-babak taubat inilah yang mungkin dapat menyedar serta mendorong hati kita merasai cara yang sepatutnya seorang hamba brgantung
harap kepada belas ihsan Tuhannya.

Marilah kita teliti ucapan Rabiah sewaktu kesunyian di ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:

”Ya Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada segala yang ada yang boleh memesongkan diri daripada-Mu, daripada segala pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!”

”Tuhanku! bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di hadapan-Mu.”

”Tuhanku! Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan burung yang menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti keEsaan-Mu dan menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.”

Sekelian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik maksyuknya. Yang tinggal hanya Rabiah yang banyak kesalahan di hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya yang akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat kepada-Mu.

Rabiah juga pernah meraung memohon belas ihsan Allah SWT:

”Tuhanku! Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian kepada keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang mendalam dan kerana kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan. Engkaulah Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang terang, falak yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang berkerdipan dan setiap sesuatu di sisi-Mu dengan takdir sebab Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.”


Setiap malam begitulah keadaan Rabiah. Apabila fajar menyinsing, Rabiah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:

”Wahai Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti. Wahai malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya aku berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan takziah? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, nescaya aku akan tetap tidak bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu.”

Seperkara menarik tentang diri Rabiah ialah dia menolak lamaran untuk berkahwin dengan alasan:

”Perkahwinan itu memang perlu bagi sesiapa yang mempunyai pilihan. Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apa pun.”

Rabiah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh itu dia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keredaan Allah. Rabiah telah
mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata. Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di hadapannya dan sentiasa membelek-beleknya setiap hari.

Selama 30 tahun dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini dalam sembahyangnya:

”Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu.”

Antara syairnya yang masyhur berbunyi:

Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun,
Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun,
Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun,
Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetik pun.

Rabiah telah membentuk satu cara yang luar biasa di dalam mencintai Allah. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk membersihkan hati dan jiwa. Dia memulakan fahaman sufinya dengan menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah seperti yang pernah
diluahkannya:

”Wahai Tuhanku! Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang mencintai-Mu dan lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut kepada-Mu?”

Kecintaan Rabiah kepada Allah berjaya melewati pengharapan untuk beroleh syurga Allah semata-mata.

Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana tamak kepada syurga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembah-Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.

Begitulah keadaan kehidupan Rabiah yang ditakdirkan Allah untuk diuji dengan keimanan serta kecintaan kepada-Nya. Rabiah meninggal dunia pada 135 Hijrah iaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga Allah meredainya, amin!

Sekarang mari kita tinjau diri sendiri pula. Adakah kita menyedari satu hakikat yang disebut oleh Allah di dalam Surah Ali Imran, ayat 142 yang bermaksud:

”Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang yang sabar.”

Bagaimana perasaan kita apabila insan yang kita kasihi menyinggung perasaan kita? Adakah kita terus berkecil hati dan meletakkan kesalahan kepada insan berkenaan? Tidak terlintaskah untuk merasakan di dalam hati seumpama ini:

”Ya Allah! Ampunilah aku. Sesungguhnya hanya Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hanya kasih-Mu yang abadi dan hanya hidup di sisi-Mu sahaja yang berkekalan. Selamatkanlah aku daripada tipu daya yang mengasyikkan.”

Sesungguhnya apa juga lintasan hati dan luahan rasa yang tercetus daripada kita bergantung kepada cara hati kita berhubung dengan Allah. Semakin kita kenali keluhuran cinta kepada Allah, maka bertambah erat pergantungan hati kita kepada Allah serta melahirkan keyakinan cinta dan
kasih yang sentiasa subur.

Lanjutan itu jiwa kita tidak mudah berasa kecewa dengan gelagat sesama insan yang pelbagai ragam. Keadaan begini sebenarnya terlebih dahulu perlu dipupuk dengan melihat serta merenungi alam yang terbentang luas ini sebagai anugerah besar daripada Allah untuk maslahat kehidupan manusia. Kemudian cubalah hitung betapa banyaknya nikmat Allah kepada kita.

Dengan itu kita akan sedar bahawa kita sebenarnya hanya bergantung kepada Allah. Bermula dari sini kita akan mampu membina perasaan cinta terhadap Allah yang kemudian mesti diperkukuhkan dengan mencintai titah perintah Allah. Mudah-mudahan nanti kita juga akan menjadi perindu cinta
Allah yang kekal abadi.


Wednesday, March 23, 2011

The Importance and Methodology of Tarbiyah

by Shaikh Ahmed Aways

Tarbiyah in Islam is very important, for indeed all of the Deen is based upon tarbiyah (i.e. the education and upbringing of the people). This starts first of all with the education and training of our own selves, then of our families, and then of the community at large. But this tarbiyah is most important with respect to our children, so that they are brought up upon the correct path of Islam. Because of this, many of the scholars take care in discussing this aspect of tarbiyah more so than the others.

After the benefit of al-Islam and our very creation, from the best of benefits is that of having children. We see their benefits both in this world and after we have passed to the next. As for the benefits in this world - when a person becomes old and unable to earn a livelihood, all of his friends and companions leave him alone and it is his children who look after and care for him, bearing his problems and burdens. As for after his death, then a person benefits from his children as the Prophet said: "When the son of Adam passes away, all of his deeds are stopped except for three. Some kind of charity that is continuous, or knowledge which the people are benefiting from, or a righteous child who is praying for him."

Also from the benefits of having children is that if they were to pass away whilst still children, they will intercede for their parents. This is authentically reported from the Prophet , who said: "There is no Muslim individual, male or female, who has three of his children pass away whilst they are young and he is patient with that, except that they will come and intercede for him on the Day of Judgment." So 'Umar asked, 'What about two [children]?' Upon this the Prophet said, "It is the same for two [children]." (Al-Bazzaar, al-Haakim. Sh. al-Albaanee mentions it in his book, Kitaabul-Janaa-iz)

As for the person who has one child who passes away and he is patient with this, seeking his reward from Allah , then he shall also find a great reward with Him. As in a hadeeth wherein it is reported that the Prophet used to sit down in his sitting place and his companions would sit in front of him to seek benefit and learn from him. From amongst them was a man who had a small boy; he used to come to the Prophet from behind his back by way of respect, then he used to sit in front of him and sit his son in front of the Prophet . The Prophet asked, "Do you love this child of yours?" The man replied, "Yes, and may Allah cause you to love him also." Then it happened that this child passed away, and the man was so sad that he used to refrain from coming to sit with the Prophet . So the Prophet asked his companions about this man saying, "Why is it that he no longer comes to my sitting place?" And this was from the Sunnah of the Prophet , that if he had people who would come to him and then stop coming, he would ask about their condition and their affairs. So the companions told him that the man's son had passed away and that he was sad because of that. So the Prophet went to meet this man and asked him, "What has happened to your son?" And the man told him that he had passed away. So the Prophet said, "Do you wish that your son could be here with you spending time with you, or do you prefer that your son would reach Paradise before you, waiting at the Doors of Paradise to open them for you?" So the man said, "O Messenger of Allah. I wish that my son would go forth before me and precede me to Paradise." So the Prophet said to him, "Verily, this is for you." So upon this, one of the companions said, "O Messenger of Allah, may I be sacrificed for your sake! Is this (reward) only for this man or is it for all of the people?" He said, "No, this reward is for all of the people (i.e. those who lose a child and are patient with their loss)." (Al-Haakim. Adh-Dhahabee declared it Saheeh as did Sh. Al-Albaanee)

Also from the benefits of having children is that if one has daughters and is patient with them, bringing them up correctly, then for him is a great reward from Allah. Our mother Aa'ishah said, "A woman with two daughters and who was very poor came to my door requesting charity. All I had was three dates, so I gave them to this woman and her two daughters. The woman gave a date to each of her daughters and kept the third date for herself. But when the two daughters had finished their dates, they both looked up to their mother wanting the date which she had. So she felt mercy for her two daughters and split the date into two halves, she gave a half to each of her daughters and then she went away. When the Prophet came back I informed him about what had happened. He said, 'Anyone who has daughters and is good in bringing them up, then they will be as a barrier between him and the Hell-Fire'." (Bukhari & Muslim)

It is obligatory for the parents to take care of their children as the responsibility for them is upon their shoulders. As the Prophet said, "All of you are shepherds and will are responsible for his flock." Unfortunately, many of the people look down upon this affair of bringing up the children correctly and consider it as a small matter and unimportant, instead busying themselves which affairs such as politics and those things which it may be beyond their ability to reach. They look to those things which are seen as more important and so look down upon the affair of raising their children correctly. In this, they are mistaken, as whoever the Imam or the leader of the believers may be, even if he was the most righteous of all righteous people and the most just of all rulers, if a person does not take care of their own affairs then no-one else is going to come into their house and look after their children for them. And if this Imam was the worst of all the people, yet a person was to take care of their own family as is his responsibility, then how is his harm and his condition going to affect that person? Allah says,

"Verily! Allah will not change the good condition of a people as long as they do not change their state of goodness themselves." [Qur'an Ra'd 13:11]

So it is upon us to change our own condition and the condition of our own families, and then to look to the condition of our communities and the community of the Muslims at large. For if we were to neglect this responsibility then we would never achieve the correct tarbiyah - training, upbringing and education - of our societies.

Indeed the Book of Allah (Qur'an) and the Sunnah of the Prophet encourage us to bring up our children correctly; ordering us with righteousness and good conduct ourselves as well as ordering us to prevent our families from falling into that which would result in their own destruction. As Allah says,

"O you who believe! Ward off from yourselves and your families a Fire (Hell) whose fuel is men and stones." [Qur'an Tahrim 66:6]

And He says,

"And enjoin Prayer on your family, and be patient in offering them (i.e. the Prayers)." [Qur'an Ta-Ha 20:132]

The Prophet said, "Order your children with Salah when they are seven years old, and beat them upon it (i.e. force them to do so by hitting them) when they are ten years old, and (also) separate them in their sleeping place." So by the preceding Ayat and hadeeth, Allah and the Prophet teach the believers about the importance of Salah and worship, and also in the hadeeth the Prophet is teaching his Ummah about how to live this life free from all types of doubts and misconceptions, by avoiding those places and situations where such doubts and misconceptions may arise. So the order is that one should raise one's children upon the most blessed and praiseworthy of characteristics.

So what follows are some practical steps in bringing up the family correctly.

Seeking Righteous Children

When an individual wants to get married, they should have the intention to have - and ask Allah to give them - righteous children. They should be patient upon this and seek their children with the correct intention i.e. to increase the number of the Prophet's Ummah, and seek Allah's reward in this life and the Hereafter by way of his children. As the Prophet said, "Marry those women who are loving and fertile, for verily I want to be amongst those (Prophets) who have the most followers on the Day of Judgement." So when a person gets married he should seek children with the intention to have many children which will go towards making up the Ummah of the Prophet and that these children may become righteous slaves of Allah so that he may benefit from them in this world and the Hereafter. This is because the intention has a special and important place with regard to the outcome, as the Prophet said, "Verily, every action is by its intention." So if one has the correct intention at the beginning of the action, then he has its correct fruits at the end.

Setting A Good Example

The parent should be a good and the best example for their children. They should hasten to do all good and, likewise, hasten to leave all evil. This is because children follow the example of their parents as they love them and respect and admire them. So the parents are the greatest of all examples for their children. Therefore, whatever the parents are upon, the children follow them. It is not possible, however one may try, to hide one's evil characteristics from their children. A person may go into his home, closing the door behind them, but it is the children who know the reality of their affairs. They know how their character truly is, what they watch and what they see, and they know their situation perfectly. So we should try and be good examples to our children; having the best characteristics, being good towards the people, and remaining upright in our Deen.

Placing Importance Upon The Deen

The parent should make the most important affair in his life and that of his child the Religion. They should raise their child to know that the most important aspect of his life is that he be upright in his Deen, correcting it and clinging to it firmly. Allah said,

"And this (submission to Allah, Islam) was enjoined by Ibrahem upon his sons and by Ya'qoob (as), (saying), 'O my sons! Allah has chosen for you the (true) Religion, then die not except in the Faith of Islam." [Qur'an Baqarah 2:132]

And He says,

"And he made it (i.e. Laa ilaha illAllah - none has the right to be worshipped but Allah Alone) a Word lasting among his offspring (True Monotheism), that they may turn back (i.e. repent to Allah or receive admonition)." [Qur'an Zukhruf 43:28]

So this should be our greatest concern with regard to our children, that we make clear to them the importance of their Religion and their being upright. We should not be concerned with their Dunya i.e. that they bring home food or drink or wealth, rather we should be most concerned with their remaining upright Muslims. After this, the believer should make du'a to Allah and supplicate to Him that He guide his children and make them upright, for indeed there is no power nor strength except in Allah. No one has the ability to guide his children himself, or to keep them upon the straight path, rather this is in the Hands of Allah. So one should make du'a to Allah as His prophets did before. Allah says that the believers say,

"Our Lord! Bestow on us from our wives and our offspring who will be the comfort of our eyes, and make us leaders for the Muttaqoon (i.e. pious and righteous persons who fear Allah much [abstain from all kinds of sins and evil deeds which He has forbidden] and love Allah much [perform all kinds of good deeds which He has ordained])." [Qur'an Furqan 25:74]

And also Prophet Ibrahem (as) mentioned in a long du'a,

"O my Lord! Make me one who offers prayers perfectly, and (also) from my offspring, our Lord! And accept my invocation." [Qur'an Ibrahim 14:40]

So we should follow this example of the prophets in making du'a to Allah and taking the necessary steps in educating and bringing up our children upon this Deen, and asking Allah to keep them upright in their Religion. The Ayah which was previously mentioned is general for all of the believers. That is, that when one reaches the age of 40 he should make du'a for his parents and that Allah should keep him upon the Guidance, and he also makes du'a that Allah keeps his children upright and correct their affairs.

Showing Love & Kindness Towards One's Children

The parent should control his affair with love, kindness and softness, and should not always use harshness and beating to bring up his children. Rather, he should make his way to be primarily a loving and concerned way. However, if the situation requires that he should also use harshness and hardness and even hitting his children, then he should do so as and when the situation requires it, but he should not make this his way i.e. that he is always hard and harsh towards his children. We should not be like those people who are always hard upon their children as this may lead them towards further corruption and going astray. Neither should we be like many of the Europeans are i.e. that they leave their children without any discipline so that they follow whatever way they like and do whatever they like. Rather we should take the middle course (balanced), sometimes using harshness and sometimes softness, according to the situation. We should always try to exercise balance in raising our children, balancing their affairs correctly and making the uppermost characteristic that of kindness, softness and mercy.

Teaching Good Character

The parent should raise his children upon good character from a young age. He should teach them the Qur'an, the Seerah of the Prophet and that of the Companions also (ra). One should not leave his children to continue making mistakes saying that he will correct them when they get older, because indeed it becomes increasingly more difficult to correct a person when he has grown up upon incorrect actions and bad characteristics. As a poet said, "Whoever grows up upon something, he grows old upon that same thing." So we should teach our children from a young age the correct Aqeedah and belief, for example that Allah is above His Throne, and we should teach them love for the Prophet and his Companions (ra). We should also teach them aspects of good character, like being courageous, kind, generous and modest etc. Then if one of our children makes a mistake, we should point out this mistake to them and explain that the action is wrong, not leaving them and saying 'they are just children' or that we will tell them when they grow older. This is because of the saying, "Whoever grows up upon something, he grows old upon that that same thing." And from the guidance of the Prophet is that he used to train and bring up the children from a young age upon good manners and character. As can be seen in the hadeeth of Hasan , in which he narrates how he once took a date from the dates of Sadaqa, and the Prophet shouted at him and told him to take the date out of his mouth. The Prophet explained to him that the dates were for Sadaqa, and that Sadaqa was not allowed for the Prophet or his family. So the Prophet did not leave Hasan alone, rather he reprimanded him for what he did and explained to him the correct way, using intelligence and Hikmah. Likewise in the hadith of the son of Umm Salamah, who narrated that he used to stay in the house of the Prophet , and that he used to eat in an incorrect way i.e. from everywhere in the plate. So the Prophet said to him, "O boy! Mention Allah's Name i.e. say 'Bismillah', eat with your right hand and eat that which is in front of you. So this Sahabah went on to narrate that he continued to practise this etiquette of eating until that day (i.e. until he had become older). This shows that the Prophet would correct the children by pointing out their mistakes, and also he did so in such a way that they would continue upon the correct way which he had taught them until they became older.

Exercising Justice With Regard To One's Children

The parent should not oppress or wrong any of his children. He should not show one of his children due favour more so than the other, by giving him more than his other children or praising him more than any of the others. Indeed this type of oppression and favouritism can be a reason for the children swaying from the correct path and developing personal problems later on in life. The Prophet said, "Fear Allah and be just with regard to your children." Indeed, being just can positively affect the children's tarbiyah, just as being unjust can have negative affects upon their tarbiyah. Of these negative effects is that the child may feel that if he cannot find justice with his own parents, then who can he find justice with? And he may carry this problem and this feeling in his heart all of his life.

Spending Upon One's Children

The parents, both the mother and the father, should spend upon their children. They should take the necessary steps to earn money and spend upon their children correctly. Indeed, anything, which one spends upon his family with the correct intention, will have a reward for it. As in the hadeeth of Sa'd ibn Ma'aadh , who narrated that the Prophet said, "There is nothing that you spend upon your families, even the food that you put into the mouth of your wife, except that you will get a reward for it." Also there is a hadeeth which is collected by Muslim, which states the importance of spending upon the family and that it is the best of all actions with which one draws nearer to Allah . In this hadeeth the Prophet said, "Two dinaars which you spend in the way of Allah, or two dinaars which you spend by way of sadaqah (charity), or two dinaars which you give to the miskeen (poor), or the two dinaars which you give to your family - with which of these is the greatest reward? Indeed the greatest of these as regards reward is that dinaar which you spend upon your family."

So, in conclusion, everyone should take care of his family, for if it were the case that everyone in society were to take care of the upbringing of their families and their financial needs, then this would be good for the society as a whole. And if everyone were to leave the affairs of their families and their children, then this would lead to the corruption of the society and poverty would be widespread. By spending upon our families and taking care of their tarbiyah, this is how we train them and help them to remain upright upon this Deen of Al-Islam.

Tuesday, March 15, 2011

peperangan KHAIBAR

Punca meletusnya peperangan
Pada penghujung bulan Muharram tahun 7 hijrah telah berlakunya peperangan Khaibar . Ia berlaku di satu tempat yang bernama Khaibar iaitu sebuah tempat yang diduduki oleh Yahudi yang terletak kira-kira 80 hingga 100 batu utara Madinah. Sebab meletusnya peperangan ini adalah kerana setelah Rasulullah S.A.W membuat kajian mengenai tiga puak yang telah berperang dengan tentera Islam dalam peperangan Hudaibiah sebelum ini di mana hasilnya salah satu pihak telah mematuhi apa yang telah disepakati dan hanya tinggal dua puak sahaja yang belum menunjukkan sikap patuh dan taat iaitu yahudi dan kabilah an-Najdi.

Perkara ini dianggap begitu kritikal sehingga mereka benar-benar tunduk dan patuh kepada Daulah Islamiah dalam menjamin keamanan dan ketenteraman. Oleh itu perlu diambil tindakan segera walau pun terpaksa menumpahkan darah sehingga Islam mampu disampaikan.Yahudi yang berkubu di Khaibar merupakan antara mereka yang terlibat dan bersatu dengan musuh Islam yang lain dalam menyerang tentera Islam dalam peperangan Ahzab. Mereka juga merupakan penghasut yang menanamkan sikap permusuhan dalam diri bani Quraizah dalam menentang Islam.

Mereka juga merupakan orang tengah yang berhubung dengan puak munafik dalam membuat kacau terhadap Daulah Islamiah. Selepas itu sebab yang paling besar ialah sikap keras kepala mereka yang mengundang untuk berlakunya peperangan antara mereka dan tentera Islam. Sebagaimana maklum, sebelum ini masalah pengkhianatan dan pakatan yahudi dalam kawasan Madinah telah dapat diselesaikan oleh Rasulullah S.A.W dengan berlakunya beberapa siri penghalauan mereka dari Madinah.

Kita lihat di sini betapa kedegilan golongan yahudi terus berlaku semenjak nabi-nabi terdahulu sehingga zaman kita sekarang ini. Mereka tidak pernah tunduk dan patuh pada setiap perjanjian yang dibuat termasuk apa yang kita lihat sekarang dengan peristiwa yang berlaku di bumi Palestin semenjak pencerobohan pada 15 Mei 1948 iaitu 51 tahun sebelum ini.Jika di masa Rasulullah S.A.W menjadi pemimpin Daulah Islamiah di Madinah pun mereka melanggar perjanjian yang dibuat apatah lagi pada zaman kita sekarang di mana Daulah Islamiah tidak ada maka kejahatan dan kebiapan mereka lebih jelas dan terang.Kebiadapan mereka dipandang remeh oleh pemimpin sekular yang menganggap bahawa bumi Palestin adalah milik mereka bukannya milik umat Islam keseluruhannya.

Kita perlu ingat amaran daripada Sultan Abdul Hamid II ketika khilafah Uthmaniah begitu lemah namun dengan rasa bertanggungjawab beliau menolak permintaan daripada barat agar menyerah bumi Palestin kepada mereka. Baginda menyatakan bahawa bumi Palestin milik seluruh umat Islam dan untuk mengambilnya maka terpaksa melangkah mayat umat Islam terlebih dahulu. Kita juga perlu ingat kata-kata Sayyidina Umar al-Khottab ketika mula-mula membuka kota Baitul Maqdis daripada cengkaman kuffaryang berbunyi :" Kita merupakan kaum yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan Islam, selagimana kita berpegang dengan Islam maka selagi itu kita akan dimuliakan tetapi jika kita meninggal Islam maka kehinaan akan menimpa kita".

Kekuatan musuh dan pakatan munafik

Yahudi di Khaibar mempunyai kubu-kubu yang kukuh dan memiliki lebih kurang 10 ribu tentera serta kelengkapan senjata yang banyak. Mereka merupakan pengkhianat dan pencetus huru-hara yang mesti dihancurkan sebelum bergerak lebih agresif dan bakal menggugat ketenteraman terhadap kerajaan Islam di Madinah. Oleh sebab itu, Rassulullah S.A.W telah mengambil tindakan segera dengan mengumpul bala tentera Islam untuk keluar ke Khaibar.Bilangan tentera Islam yang turut serta dalam peperangan ini ialah seramai 1600 orang dengan 2 ratus tentera berkuda dan bersama mereka mereka yang pernah turut serta dalam peperangan Hudaibiah. Sebelum itu Rasulullah S.A.W telah mengarahkan agar hanya mereka yang benar-benar ingin dan bersedia untuk keluar berperang sahaja yang turut serta dalam peperangan ini.

Ini merupakan satu strategi awal yang penting dalam menjamin sebarang kemungkinan buruk yang bakal berlaku jika mereka yang tidak bersedia untuk berperang turut keluar bersama mereka dalam peperangan ini.

Pada masa yang sama puak munafik yang diketuai oleh Abdullah bin Ubai telah menghantar surat kepada yahudi Khaibar tentang kemaraan tentera Islam ke tempat mereka untuk memerangi yahudi Khaibar. Apabila menerima berita daripada puak munafik maka yahudi Khaibar terus menghantar Kinanah bin Abu al-Hakik dan Hauzah bin Qais ke Ghatfan bagi tujuan meminta bantuan daripada munafik kerana puak munafik telah berjanji dengan yahudi Khaibar mengenai perkara ini sebelum ini serta mereka sepakat dalam menentang Islam.

Puak munafik memberi syarat iaitu mereka akan mendapat sebahagian daripada hasil tanaman Khaibar sekiranya tentera Islam berjaya ditewaskan.Inilah dia kejahatan yang jelas pada diri puak munafik di mana mereka hanya beriman pada mulut tetapi dalam hati mereka tersimpan dendam kesumat terhadap Islam.

Mereka merupakan musuh dalam selimut atau pun gunting dalam lipatan kepada Islam. Pergerakan mereka lebih sukar dibaca berbanding yahudi atau pun kuffar yang lain.

Pada zaman kita sekarang ini lebih ramai lahirnya puak munafik yang mengatakan bahawa mereka mahu juga kepada Islam sedangkan tindakan mereka adalah untuk melunturkan semangat jihad dan menguburkan Islam dalam jangka masa yang panjang dengan sistem sekular yang diamalkan.Ingatlah kata-kata mufti terakhir pada zaman Khilafah Uthmaniah yang menyatakan sekular merupakan revolusi kerajaan terhadap rakyat dan ia merupakan jalan atau sistem yang secara mudah akan membawa kepada murtad.


Peristiwa sepanjang perjalanan ke Khaibar


Rasulullah S.A.W terus mara menuju Khaibar melalui Bukit Asr kemudian Sohba' dan seterusnya turun ke sebuah wadi yang dipanggil ar-Raji' di mana jarak antaranya dengan Ghatfan adalah sehari semalam perjalanan. Mereka tiba di Ghatfan dan meneruskan perjalanan ke Khaibar bagi membuat perhitungan dengan yahudi di sana. Ketika mereka berada dipertengahan jalan maka terdengar suara di belakang mereka dengan suara ketakutan dan kebimbangan. Suara itu merupakan suara penduduk di kampung antara Ghatfan dan Khaibar yang mana mereka beranggapan bahawa tentera Islam mahu memerangi mereka tetapi sebenarnya adalah sebaliknya.Mereka terus mengambil tindakan dengan menjauhkan diri daripada tentera Islam dan Khaibar.

Rasulullah s.a.w memanggil dua orang yang bertanggungjawab dalam memberi petunjuk tentang jalan yang terbaik menuju Khaibar yang mana salah seorang daripada mereka bernama Husail.Ini bertujuan agar mereka dapat masuk Khaibar melalui sebelah utaranya. kata salah seorang daripada keduanya : " Saya akan menunjukkan kepada engkau wahai Rasulullah". Baginda S.A.W bersetuju untuk membenarkannya dalam menunjuk jalan yang terbaik sehinggalah mereka sampai dipersimpangan jalan yang bercabang. Dia berkata ;" Wahai Rasulullah! Ini merupakan jalan-jalan yang boleh dilalui untuk menuju ke destinasi yang dituju". Rasulullah S.A.W meminta agar dia menamakan setiap jalan-jalan itu lalu dia berkata :"Nama salah satu daripanya ialah Hazan". Maka baginda S.A.W tidak setuju untuk melalui jalan itu. Dia berkata lagi :" Nama jalan lain ialah Syas". Baginda turut tidak mahu melalui jalan itu. Dia memberitahu lagi bahawa jalan seterusnya bernama Hatob dan baginda S.A.W tetap tidak bersetuju untuk melalui jalan itu.Husail berkata bahawa hanya tinggal satu saja lagi jalan yang bernama Marhab maka Rasulullah S.A.w terus bersetuju untuk melalui jalan itu untuk menuju ke Khaibar. dari sini kita dapati bahawa strategi merupakan satu perkara penting dalam sesuatu tindakan apatah lagi peperangan walau pu ia nampak sesuatu yang kecil. Sebab itulah kata Sayyidina Ali : Kebenaran tanpa organisasi atau pergerakan yang tersusun rapi akan dikalahkan oleh kebatilan yang tersusun strategi dan organisasinya.

Tentera Islam terus mara menuju ke Khaibar dan mereka bermalam pada malam itu di satu kawasan yang berdekatan dengan Khaibar.Ini adalah merupakan antara strategi dalam peperangan di mana Rasulullah S.A.W apabila tiba di satu tempat dalam sesuatu peperangan maka baginda S.A.W tidak akan memulakan perangan melainkan pada pagi keesokan harinya. Selepas fajar menyinsing maka tentera Islam terus menuju ke Khaibar di mana penduduk Khaibar tidak sedar akan ketibaan mereka pada pagi itu. Penduduk Khaibar keluar menjalankan kerja-kerja harian mereka seperti biasa tanpa merasakan bahawa tentera Islam sedang mara menuju ke arah mereka sehinggalah mereka terpandang kemaraan tentera Islam barulah mereka merasa terkejut lalu bertempiaran melarikan diri ke kampung mereka.Apabila tiba di Khaibar lalu Rasulullah S.A.W terus memerintahkan agar tentera Islam berhenti seraya berdoa kepada Allah SWT.Ketika hampir dengan sebuah kubu musuh lalu baginda S.A.W mengumpul bala tentera Islam di situ tetapi al-Hubbab bin al-Munzir telah bertanya kepada baginda S.A.W tentang tempat itu adakah ia merupakan wahyu atau pun sebaliknya kerana beliau tahu tentang selok-belok keadaan di situ. Beliau mencadangkan agar tentera Islam berpindah ke tempat lain kerana tempat itu begitu merbahaya disebabkan musuh berada berhampiran mereka iaitu dengan jarak lontaran anak panah sahaja dan mereka juga berada ditempat yang tinggi daripada tentera Islam.Tentera musuh mampu bergerak pantas dalam memecah-belahkan tentera Islam serta mampu menyerang hendap tentera Islam pada waktu malam dengan berselindung di sebalik pohon-pohon tamar yang banyak. Mendengar penjelasan ini lalu baginda S.A.W mengarah agar tentera Islam berpindah ke tempat yang lebih stategik dan selamat. Ini menunjukkan kepada kita bahawa seseorang pemimpin pada sesetengah keadaan perlu meminta dan mendengar pandangan yang terbaik daripada orang bawahan bagi menjamin kelancaran dan keberkesanan dalam sesuatu pergerakan terutama peperangan.

Perlantikan panglima perang dan meletusnya peperangan antara kedua pihak

Selepas itu Rasulullah S.A.W telah mengatur strategi perang seterusnya iaitu merancang untuk memulakan serangan selepas Subuh keesokan harinya. Keesokan paginya ketika mahu melantik panglima perang, baginda mencari-cari mereka yang layak dan akhirnya baginda bertanya tentang Sayyidina Ali bin Abu Tolib. Para sahabat mengatakan bahawa Sayyidina Ali sakit mata lalu baginda meminta agar beliau tampil ke hadapan. Dengan pertolongan Allah SWT selepas baginda memegang bahagian mata Sayyidina Ali maka matanya kembali pulih seperti tidak pernah sakit mata sebelum ini. Sayyidina Ali mengetuai bala tentera Islam dalam menentang musuh dan menawan kubu-kubu mereka di mana sebelum itu Rasulullah S.A.W telah berpesan agar beliau menjalankan amanah ini dengan baik dan apabila tiba di kawasan musuh maka serulah mereka kepada Islam terlebih dahulu. Beritahu mereka tentang kewajipan mereka terhadap Allah.Inilah ia kebaikan dan kebenaran Islam di mana ia tidak menyuruh agar menyerang musuh secara membabi buta tanpa memberi peluang kepada musuh untuk bertaubat atau pun berdamai dengan syarat patuh dan tunduk dengan perundangan Islam yang dilaksanakan dalam Daulah Islam walau pun mereka tidak memeluk Islam.

Islam bukan agama yang menghalalkan darah musuh tanpa sebab di mana serangan hanya boleh dilakukan apabila musuh degil dan tetap tidak mahu tunduk kepada Islam serta berusaha memeranginya.

Kita lihat sekarang ini Amerika Syarikat mahu menguasai dunia dan mahu setiap negara patuh dan tunduk kepada setiap arahn yang dikeluarkan. Begitu juga kita lihat bagaimana yahudi mahu menguasai dunia dalam jarak masa yang telah dirancangkan dengan terlebih dahulu membina sebuah pusat zionis antarabangsa di Palestin.

Begitu juga kita lihat kekejaman Serbia di Kosovo sekarang ini adalah bagi memastkan Islam tidak tersebar dan pengaruh Kristian terus kekal di Eropah dan usaha mereka dibantu oleh NATO dalam suasana mereka mengatakan bahawa mereka mahu menghentikan krisis Balkan.

Hindu mahu meluaskan pengaruhnya dengan mencetuskan kezaliman terhadap Kashmir dan begitulah seterusnya di mana masing-masing cuba mempengaruhi orang lain dengan caranya yang tersendiri.

Apakah kesalahan Islam apabila cuba mempengaruhi manusia sedangkan ia merupakan agama yang sebenar yang wajib dianuti oleh semua orang. Cuma cara Islam mempengaruhi orang lain jauh berbeza dengan cara ideologi atau pun agama lain dalam mempengaruhi manusia. Ia telah menggariskan cara dan matlamat sebenar berdasarkan kebenarannya dan juga kasih sayang serta keadilan yang perlu dihormati oleh setiap pejuang Islam.Islam tidak memaksa orang bukan Islam untuk memeluk Islam tetapi sentiasa membuka peluang kepada mereka untuk mengetahui tentang Islam.

Islam melarang kita mencaci agama mereka dan merobohkan gereja atau pun kuil mereka tetapi sebaliknya mengajak orang bukan Islam untuk berdiskusi tentang kebenaran Islam dan kesesatan mereka.

Tetapi masalah yang dihadapi sekarang di negara kita yang diperintah oleh pemimpin sekular yang sentiasa menggunakan Islam untuk tujuan politik semata-mata tanpa ada usaha pun ke arah pelaksaannya secara menyeluruh. Mereka turut berperanan besar dalam menakutkan orang bukan Islam tentang Islam dan juga terus membenarkan jenayah murtad berleluasa tanpa ada hukuman yang sewajarnya. Agensi-agensi agama serta media masa hanya digunakan untuk mengaburkan pandangan rakyat tentang Islam yang sebenar bagi menjaga kedudukan politik mereka bukannya digunakan sepenuhnya untuk menerangkan tentang Islam.

Mereka sendiri jahil tentang Islam dan ulama' upahan mereka hanya tunduk pada kata-kata mereka bukannya membantu mereka untuk menerangkan tentang Islam.Sampai bilakah ia akan terus berlaku?. Lakukanlah perubahan dengan kita menumbang kerjaan sesat dan zalim dan menggantikannya dengan kerajaan yang berteraskan Islam. Mengapa kita perlu takut dan terus gerun untuk menukar kerajaan yang ada. Lupakah kita tentang janji Allah untuk memberikan kita kemenangan di dunia dan akhirat jika kita membantu dalam menegakkan Islam?.

Mengapa orang bukan Islam boleh tunduk pada sistem penjajah yang mana mereka bukan warganegara kita sedangkan mereka takut untuk berada di bawah keadilan sistem Islam.

Ingatlah kata-kata ulama' bahawa seseorang itu akan memusuhi setiap apa yang tidak diketahuinya.Oleh itu orakkan langkah dan aturkan gerak dalam memastikan kejahilan umat Islam dan orang bukan Islam tentang Islam mampu ditangani.

Ingatlah bahawa perjuangan yang berteraskan Islam akan dibantu oleh Allah.

. Akhirnya tentera Islam dapat menawan kesemua kubu-kubu musuh kecuali dua kubu yang terakhir di mana penduduk dalam kedua-dua kubu ini menyerah diri. Akhirnya mereka keluar daripada kubu mereka dan meninggalkan bumi Khaibar dalam keadaan sehelai sepinggang. Selepas mereka meninggalkan kubu mereka maka tentera Islam dapati dalam kubu itu senjata yang begitu banyak disamping suhuf-suhuf daripada kitab Taurat. Selepas itu ada dikalangan yahudi yang menuntut suhuf tersebut lalu baginda S.A.W meminta agar diserahkannya kepada mereka. Dalam peperangan ini seramai 93 orang yahudi mati dan 15 tentera Islam gugur syahid.

Kita dapat melihat bagaimana kedegilan yahudi ini begitu jelas sehingga mereka terpaksa dihalau dari Madinah dan beberapa tempat sekitarnya walau pun mereka bukanlah suatu kaum majoriti pada masa itu. Mereka kini membalas dendam tetapi tidak mempunyai alasan kukuh dalam mengusir umat Islam dari tanahair mereka sendiri.

Berkahwin dengan Sofiyyah dan Cubaan meracun Rasulullah S.A.W

Dalam membahagi harta rampasan ini maka didapati ada sebahagiannya telah disorokkan oleh dua orang anak Abu al-Hakik di mana salah seoarang bernama Kinanah. Kedua-duanya telah dibunuh kerana kesalahan dan kedegilan mereka di mana Kinanah mempunyai isteri yang bernama Sofiyyah dan dia telah dikahwini oleh Rasulullah S.A.W setelah suaminya mati dan dia sendiri memeluk Islam.

Rasulullah S.A.W telah mengadakan sedikit majlis perkahwinan mereka yang mana Ummu Sulaim telah mengandam Sofiyyah. Pada suatu hari Rasulullah S.A.W terlihat bagaimana muka Sofiyyah kemerahan lalu bertanya mengenainya lalu dia memberitahu : " Wahai Rasulullah! Aku telah lihat sebelum ketibaan engkau ke kampung kami seperti bulan jatuh daripada tempatnya lalu jatuh kebilikku. Dan tidak demi Allah akau tidak menyebut tentang dirimu sesuatu. Ketika aku menceritakan kepada suamiku maka dia telah memukul mukaku. Suamiku berkata : Engkau berangan untuk mendapatkan raja di Madinah".


Diakhir peristiwa ini ada seorang perempuan telah menghidangkan satu bahagian daging kambing kegemaran Rasulullah S.A.W di mana ia diletakkan racun.

Di sini sekali lagi kita dapat melihat bagaimana Allah SWT sentiasa membantu rasulNya dengan perantaraan malaikat yang memberitahu tentang racun tersebut. Walau bagaimana pun Basyar bin al-Barra' bin Ma'rur yang berada bersama Rasulullah S.A.W telah memakan daging kambing itu lalu mati. Rasulullah S.A.W terus memanggil perempuan itu lalu bertanya mengenai tujuan sebenar dia meletakkan racun pada daging kambing itu.

Perempuan itu mengatakan bahawa dia ingin tahu tentang kerasulan baginda di mana jika baginda merupakan malaikat maka dengan sendiri baginda tidak akan menyentuh daging kambing itu dan jika baginda merupakan rasul maka baginda tidak akan makan daging itu kerana akan diberitahu oleh Allah SWT tentang racun itu. Mendengar jawapan perempuan itu lalu Rasulullah S.A.W memaafkannya.

Persilihan yang berlaku di sini adalah mengenai hukuman terhadap perempuan ini atas kesalahannya membunuh.Sebagaimana yang disebut oleh imam Muslim bahawa perempuan yahudi ini memeluk Islam selepas peristiwa racun itu maka Rasulullah S.A.W tidak membunuhnya.

post by:bicara muslim

Sunday, March 13, 2011

cinta Adam dan Hawa

Syurga yang serba nikmat
…Segala kesenangan ada di dalamnya. Semua tersedia apa saja yang diinginkan, tanpa bersusah payah memperolehinya. Sungguh suatu tempat yang amat indah dan permai, menjadi idaman setiap insan. Demikianlah menurut riwayat, tatkala Allah SWT. selesai mencipta alam semesta dan makhluk-makhluk lainnya, maka dicipta-Nya pula Adam ‘alaihissalam sebagai manusia pertama. Hamba yang dimuliakan itu ditempatkan Allah SWT di dalam Syurga (Jannah).

Adam a.s hidup sendirian dan sebatang kara, tanpa mempunyai seorang kawan pun. Ia berjalan ke kiri dan ke kanan, menghadap ke langit-langit yang tinggi, ke bumi terhampar jauh di seberang, maka tiadalah sesuatu yang dilihatnya dari mahkluk sejenisnya kecuali burung-burung yang berterbangan ke sana ke mari, sambil berkejar-kejaran di angkasa bebas, bernyanyi-nyanyi, bersiul-siul, seolah-olah mempamerkan kemesraan.

Adam a.s terpikat melihatnya, rindu berkeadaan demikian. Tetapi sungguh malang, siapalah gerangan kawan yang hendak diajak. Ia merasa kesepian, lama sudah. Ia tinggal di syurga bagai orang kebingungan, tiada pasangan yang akan dibujuk bermesra sebagaimana burung-burung yang dilihatnya.

Tiada pekerjaan sehari-hari kecuali bermalas-malas begitu saja, bersantai berangin-angin di dalam taman syurga yang indah permai, yang ditumbuhi oleh bermacam bunga-bunga kuntum semerbak yang wangi, yang di bawahnya mengalir anak-anak sungai bercabang-cabang, yang desiran airnya bagai mengandung pembangkit rindu.

Adam kesepian

Apa saja di dalam syurga semuanya nikmat! Tetapi apalah erti segalanya kalau hati selalu gelisah resah di dalam kesepian seorang diri?

Itulah satu-satunya kekurangan yang dirasakan Adam a.s di dalam syurga. Ia perlu kepada sesuatu, iaitu kepada kawan sejenis yang akan mendampinginya di dalam kesenangan yang tak terhingga itu. Kadangkala kalau rindu dendamnya datang, turunlah ia ke bawah pohon-pohon rendang mencari hiburan, mendengarkan burung-burung bernyanyi bersahut-sahutan, tetapi aduh hai kasihan…bukannya hati menjadi tenteram, malah menjadi lebih tertikam. Kalau angin bertiup sepoi-sepoi basah di mana daun-daunan bergerak lemah gemalai dan mendesirkan suara sayup-sayup, maka terkesanlah di hatinya keharuan yang begitu mendalam; dirasakannya sebagai derita batin yang tegak di sebalik nikmat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.

Tetapi walaupun demikian, agaknya Adam a.s malu mengadukan halnya kepada Allah SWT. Namun, walaupun Adam a.s malu untuk mengadu, Allah Ta’ala sendiri Maha Tahu serta Maha Melihat apa yang tersembunyi di kalbu hamba-Nya. Oleh itu Allah Ta’ala ingin mengusir rasa kesepian Adam.

Hawa diciptakan

Tatkala Adam a.s sudah berada di puncak kerinduan dan keinginan untuk mendapatkan kawan, sedang ia lagi duduk terpekur di atas tempat duduk yang berlapiskan tilam permaidani serba mewah, maka tiba-tiba ngantukpun datanglah menawannya serta langsung membawanya hanyut ke alam tidur.

Adam a.s tertidur nyenyak, tak sedar kepada sesuatu yang ada di sekitarnya. Dalam saat-saat yang demikian itulah Allah SWT menyampaikan wahyu kepada malaikat Jibril a.s untuk mencabut tulang rusuk Adam a.s dari lambung sebelah kiri. Bagai orang yang sedang terbius, Adam a.s tidak merasakan apa-apa ketika tulang rusuknya dicabut oleh malaikat Jibril a.s.

Dan oleh kudrat kuasa Ilahi yang manakala menghendaki terjadinya sesuatu cukup berkata “Kun!” maka terciptalah Hawa dari tulang rusuk Adam a.s, sebagai insan kedua penghuni syurga dan sebagai pelengkap kurnia yang dianugerahkan kepada Adam a.s yang mendambakan seorang kawan tempat ia boleh bermesra dan bersenda gurau.

Pertemuan Adam dan Hawa

Hawa duduk bersandar pada bantal lembut di atas tempat duduk megah yang bertatahkan emas dan permata-permata bermutu manikam, sambil terpesona memperhatikan kecerahan wajah dari seorang lelaki kacak yang sedang terbaring, tak jauh di depannya.

Butir-butir fikiran yang menggelombang di dalam sanubari Hawa seolah-olah merupakan arus-arus tenaga elektrik yang datang mengetuk kalbu Adam a.s, yang langsung menerimanya sebagai mimpi yang berkesan di dalam gambaran jiwanya seketika itu.

Adam terjaga….! Alangkah terkejutnya ia ketika dilihatnya ada makhluk manusia seperti dirinya hanya beberapa langkah di hadapannya. Ia seolah tak percaya pada penglihatannya. Ia masih terbaring mengusap matanya beberapa kali untuk memastikan apa yang sedang dilihatnya.

Hawa yang diciptakan lengkap dengan perasaan malu, segera memutar badannya sekadar untuk menyembunyikan bukit-bukit di dadanya, seraya mengirimkan senyum manis bercampur manja, diiringi pandangan melirik dari sudut mata yang memberikan sinar harapan bagi hati yang melihatnya.

Memang dijadikan Hawa dengan bentuk dan paras rupa yang sempurna. Ia dihiasi dengan kecantikan, kemanisan, keindahan, kejelitaan, kehalusan, kelemah-lembutan, kasih-sayang, kesucian, keibuan dan segala sifat-sifat keperibadian yang terpuji di samping bentuk tubuhnya yang mempesona serta memikat hati setiap yang memandangnya.

Ia adalah wanita tercantik yang menghiasai syurga, yang kecantikannya itu akan diwariskan turun temurun di hari kemudian, dan daripadanyalah maka ada kecantikan yang diwariskan kepada wanita-wanita yang datang dibelakangnya.

Adam a.s pun tak kurang gagah dan kacaknya. Tidak dijumpai cacat pada dirinya kerana ia adalah satu-satunya makhluk insan yang dicipta oleh Allah SWT secara langsung tanpa perantaraan.

Semua kecantikan yang diperuntukkan bagi lelaki terhimpun padanya. Kecantikan itu pulalah yang diwariskan turun temurun kepada orang-orang di belakangnya sebagai anugerah Allah SWT kepada makhluk-Nya yang bergelar manusia. Bahkan diriwayatkan bahawa kelak semua penduduk syurga akan dibangkitkan dengan pantulan dari cahaya rupa Adam a.s.

Adam a.s bangkit dari pembaringannya, memperbaiki duduknya. Ia membuka matanya, memperhatikan dengan pandangan tajam. Ia sedar bahawa orang asing di depannya itu bukanlah bayangan selintas pandang, namun benar-benar suatu kenyataan dari wujud insani yang mempunyai bentuk fizikal seperti dirinya. Ia yakin ia tidak salah pandang. Ia tahu itu manusia seperti dirinya, yang hanya berbeza kelaminnya saja. Ia serta merta dapat membuat kesimpulan bahawa makhluk di depannya adalah perempuan. Ia sedar bahawa itulah dia jenis yang dirindukannya. Hatinya gembira, bersyukur, bertahmid memuji Zat Maha Pencipta.

Ia tertawa kepada gadis jelita itu, yang menyambutnya tersipu-sipu seraya menundukkan kepalanya dengan pandangan tak langsung, pandangan yang menyingkap apa yang terselit di kalbunya.

Adam terpikat

Adam terpikat pada rupa Hawa yang jelita, yang bagaikan kejelitaan segala puteri-puteri yang bermastautin di atas langit atau bidadari-bidadari di dalam syurga.

Tuhan menanam asmara murni dan hasrat berahi di hati Adam a.s serta menjadikannya orang yang paling asyik dilamun cinta, yang tiada taranya dalam sejarah, iaitu kisah cinta dua insan di dalam syurga. Adam a.s ditakdirkan jatuh cinta kepada puteri yang paling cantik dari segala yang cantik, yang paling jelita dari segala yang jelita, dan yang paling harum dari segala yang harum.

Adam a.s dibisikkan oleh hatinya agar merayu Hawa. Ia berseru: “Aduh, hai si jelita, siapakah gerangan kekasih ini? Dari manakah datangmu, dan untuk siapakah engkau disini?” Suaranya sopan, lembut, dan penuh kasih sayang.
“Aku Hawa,” sambutnya ramah. “Aku dari Pencipta!” suaranya tertegun seketika. “Aku….aku….aku, dijadikan untukmu!” tekanan suaranya menyakinkan.

Tiada suara yang seindah dan semerdu itu walaupun berbagai suara merdu dan indah terdengar setiap saat di dalam syurga. Tetapi suara Hawa….tidak pernah di dengarnya suara sebegitu indah yang keluar dari bibir mungil si wanita jelita itu. Suaranya membangkit rindu, gerakan tubuhnya menimbulkan semangat.

Kata-kata yang paling segar didengar Adam a.s ialah tatkala Hawa mengucapkan terputus-putus: “Aku….aku….aku, dijadikan untukmu!” Kata-kata itu nikmat, menambah kemesraan Adam kepada Hawa.

Adam a.s sedar bahawa nikmat itu datang dari Tuhan dan cintapun datang dari Tuhan. Ia tahu bahawa Allah SWT itu cantik, suka kepada kecantikan. Jadi, kalau cinta kepada kecantikan berertilah pula cinta kepada Tuhan. Jadi cinta itu bukan dosa tetapi malah suatu pengabdian. Dengan mengenali cinta, makrifah kepada Tuhan semakin mendalam. Cinta kepada Hawa bererti cinta kepada Pencipta. Dengan keyakinan demikian Adam a.s menjemput Hawa dengan berkata: “Kekasihku, ke marilah engkau!” Suaranya halus, penuh kemesraan.

“Aku malu!” balas Hawa seolah-olah menolak. Tangannya, kepalanya, memberi isyarat menolak seraya memandang Adam dengan penuh ketakjuban.

“Kalau engkau yang inginkan aku, engkaulah yang ke sini!” Suaranya yang bagaikan irama seolah-olah memberi harapan.

Adam tidak ragu-ragu. Ia mengayuh langkah gagah mendatangi Hawa. Maka sejak itulah teradat sudah bahawa wanita itu didatangi, bukan mendatangi.

Hawa bangkit dari tempat duduknya, menggeser surut beberapa langkah. Ia sedar bahawa walaupun dirinya diperuntukkan bagi Adam a.s, namunlah haruslah mempunyai syarat-syarat tertentu. Di dalam sanubarinya, ia tak dapat menyangkal bahawa iapun terpesona dan tertarik kepada rupa Adam a.s yang sungguh indah.

Adam a.s tidak putus asa. Ia tahu itu bukan dosa. Ia tahu membaca isi hati. Ia tahu bukannya Hawa menolak, tetapi menghindarnya itu memanglah suatu perbuatan wajar dari sikap malu seorang gadis yang berbudi. Ia tahu bahawa di balik “malu” terselit “rasa mahu”. Kerananya ia yakin pada dirinya bahawa Hawa diperuntukkan baginya. Naluri insaninya bergelora.

Tatkala sudah dekat ia pada Hawa serta hendak mengulurkan tangan sucinya kepadanya, maka tiba-tiba terdengarlah panggilan ghaib berseru:
“Hai Adam….tahanlah dirimu. Pergaulanmu dengan Hawa tidak halal kecuali dengan mahar dan menikah!”.

Adam a.s tertegun, balik ke tempatnya dengan taat. Hawa pun mendengar teguran itu dan hatinya tenteram.
Kedua-dua manusia syurga itu sama terdiam seolah-olah menunggu perintah.

Perkahwinan Adam dan Hawa

Allah SWT. Yang Maha Pengasih untuk menyempurnakan nikmatnya lahir dan batin kepada kedua hamba-Nya yang saling memerlukan itu, segera memerintahkan gadis-gadis bidadari penghuni syurga untuk menghiasi dan menghibur mempelai perempuan itu serta membawakan kepadanya hantaran-hantaran berupa perhiasan-perhiasan syurga. Sementara itu diperintahkan pula kepada malaikat langit untuk berkumpul bersama-sama di bawah pohon “Syajarah Thuba”, menjadi saksi atas pernikahan Adam dan Hawa.

Malaikat dan para bidadari berdatangan

Setelah akad nikah selesai berdatanganlah para malaikat dan para bidadari menyebarkan mutiara-mutiara yaqut dan intan-intan permata kemilau kepada kedua pengantin agung tersebut. Selesai upacara akad, dihantarlah Adam a.s mendapatkan isterinya di istana megah yang akan mereka diami.

Hawa menuntut haknya. Hak yang disyariatkan Tuhan sejak semula.
“Mana mahar?” tanyanya. Ia menolak persentuhan sebelum mahar pemberian ditunaikan dahulu.

Adam a.s bingung seketika. Lalu sedar bahawa untuk menerima haruslah sedia memberi. Ia insaf bahawa yang demikian itu haruslah menjadi kaedah pertama dalam pergaulan hidup.

Sekarang ia sudah mempunyai kawan. Antara sesama kawan harus ada saling memberi dan saling menerima. Pemberian pertama pada pernikahan untuk menerima kehalalan ialah mahar. Oleh kerananya Adam a.s menyedari bahawa tuntutan Hawa untuk menerima mahar adalah benar.

Mahar perkahwinan Adam

Pergaulan hidup adalah persahabatan! Dan pergaulan antara lelaki dengan wanita akan berubah menjadi perkahwinan apabila disertai dengan mahar. Dan kini apakah bentuk mahar yang harus diberikan?
Itulah yang sedang difikirkan Adam.

Untuk keluar dari keraguan, Adam a.s berseru: “Ilahi, Rabbi! Apakah gerangan yang akan kuberikan kepadanya? Emaskah, intankah, perak atau permata?”.

“Bukan!” kata Tuhan.

“Apakah hamba akan berpuasa atau solat atau bertasbih untuk-Mu sebagai maharnya?” tanya Adam a.s dengan penuh pengharapan.

“Bukan!” tegas suara Ghaib.

Adam diam, mententeramkan jiwanya. Kemudian bermohon dengan tekun: “Kalau begitu tunjukilah hamba-Mu jalan keluar!”.

Allah SWT. berfirman: “Mahar Hawa ialah selawat sepuluh kali atas Nabi-Ku, Nabi yang bakal Kubangkit yang membawa pernyataan dari sifat-sifat-Ku: Muhammad, cincin permata dari para anbiya’ dan penutup serta penghulu segala Rasul. Ucapkanlah sepuluh kali!”.
Adam a.s merasa lega. Ia mengucapkan sepuluh kali salawat ke atas Nabi Muhammad SAW. sebagai mahar kepada isterinya. Suatu mahar yang bernilai spiritual, kerana Nabi Muhammad SAW adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Hawa mendengarkannya dan menerimanya sebagai mahar.
“Hai Adam, kini Aku halalkan Hawa bagimu”, perintah Allah, “dan dapatlah ia sebagai isterimu!”.
Adam a.s bersyukur lalu memasuki isterinya dengan ucapan salam. Hawa menyambutnya dengan segala keterbukaan dan cinta kasih yang seimbang.

Allah SWT. berfirman kepada mereka: “Hai Adam, diamlah engkau bersama isterimu di dalam syurga dan makanlah (serta nikmatilah) apa saja yang kamu berdua ingini, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini kerana (apabila mendekatinya) kamu berdua akan menjadi zalim”.

(Al-A’raaf: 19).
Dengan pernikahan ini Adam a.s tidak lagi merasa kesepian di dalam syurga. Inilah percintaan dan pernikahan yang pertama dalam sejarah ummat manusia, dan berlangsung di dalam syurga yang penuh kenikmatan. Iaitu sebuah pernikahan agung yang dihadiri oleh para bidadari, jin dan disaksikan oleh para malaikat.
Peristiwa pernikahan Adam dan Hawa terjadi pada hari Jumaat. Entah berapa lama keduanya berdiam di syurga, hanya Allah SWT yang tahu. Lalu keduanya diperintahkan turun ke bumi. Turun ke bumi untuk menyebar luaskan keturunan yang akan mengabdi kepada Allah SWT dengan janji bahawa syurga itu tetap tersedia di hari kemudian bagi hamba-hamba yang beriman dan beramal soleh.

Firman Allah SWT.: “Kami berfirman: Turunlah kamu dari syurga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, nescaya tidak ada kekhuatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

(Al-Baqarah: 38)

Dipetik Dari Buku: 1001 Impian Siri 1 ” Rangkaian Kisah-kisah Bidadari”.

post by-ieen's blog